12 Strong Review

Film 12 Strong merupakan sebuah film yang diproduseri oleh Jerry Bruckheimer berdasarkan novel non fiksi berjudul Horse Soldiers karya Doug Stanton. Secara garis besar, film 12 Strong berkisah mengenai satu batalyon tentara Amerika pertama yang berusaha untuk melakukan invasi ke Afghanistan, beberapa hari setelah tragedi 9/11 terjadi di Amerika. Tugas dari batalyon tersebut adalah untuk bekerjasama dengan penguasa lokal dan bersama-sama berusaha merebut atau menguasai Mazar-i-Sharif, yang merupakan masrkas utama Taliban. Diharapkan dengan menguasai Mazar-i-Sharif, maka mereka sekaligus dapat memangkas sebagian besar jumlah pasukan yang dimiliki oleh Al Qaeda.

Dalam film ini, Laikers akan menyaksikan penampilan Chris Hemsworth yang agak lain dari peran Thor yang biasa dibawakannya. Aktor asal Australia ini berperan sebagai Mitch Nelson, kapten dari batalyon ODA (Operation Detachment Alpha) 595. Meski Mitch Nelson sendiri sebenarnya belum pernah turun langsung ke medan perang, namun ke sebelas anak buahnya sangat setia terhadap dirinya.

Sebelum tragedi 9/11, Mitch berencana untuk bekerja di balik meja, demi kebahagiaan keluarganya. Namun setelah menyaksikan serangan teroris yang menimpa World Trade Center, Mitch pun bergegas datang ke markas untuk ditugaskan dan dikirim ke Afghanistan. Begitu tiba di medan perang, Laikers akan terkesima melihat Mitch yang serba bisa, mulai dari penguasaan cuaca, hingga cara bertempur dengan menunggang kuda layaknya prajurit berkuda di masa perang antar kerajaan.

Selain Chris Hemsworth, penampilan Michael Shannon (Man of Steel, The Shape of Water), Michael Pena (American Hustle, The Martian), dan Trevante Rhodes (Moonlight, Burning Sands) pun tak kalah menawan. Meski porsi yang dibawakan oleh Trevante Rhodes terasa jauh lebih sedikit dibanding dengan yang lainnya. Paling tidak, mereka semua dapat membawakan perannya dengan piawai, sekaligus melemparkan beberapa lelucon-lelucon kocak yang lumayan dapat menceriakan film ini.

Saat Laikers menyaksikan film 12 Strong, jangan bandingkan film ini dengan film-film perang lain, seperti Saving Private Ryan (1998) atau The Hurt Locker (2008), yang telah mengajarkan pada Laikers bahwa kemenangan perang pastinya akan dibayar dengan mahal. Film 12 Strong memang merupakan film perang, namun sebuah film perang ringan yang menitikberatkan pada kekuatan militer Amerika. Menyaksikan film ini, bagaikan memainkan sebuah game, dimana setiap desa atau kota merupakan level baru yang harus dikalahkan. Pada level terakhir, Laikers akan menyaksikan batalyon ODA 595 bertarung melawan komandan Taliban (Said Taghmaoui) lengkap dengan rocket launcher-nya.

Salah satu hal yang patut disayangkan adalah naskah cerita yang ditulis oleh Ted Tally dan Peter Craig yang terkesan sangat ‘biasa’. Bahkan saat Jendral Abdul Rashid Dostum (Navid Negahban) menuduh Mitch merupakan seorang prajurit dan bukanlah seorang pejuang, tidak ada yang dilakukan sama sekali untuk mengubah seorang Mitch menjadi seorang pejuang. Tiba-tiba saja, Micth berubah saat perang dan matanya terlihat bagaikan mata seorang pembunuh.

Bagaimanapun, secara garis besar, film 12 Strong tetap merupakan sebuah film yang menyenangkan untuk disaksikan, terutama bagi Laikers yang gemar menonton film perang. Selain adegan-adegan peperangan yang lumayan menawan, film yang disutradarai oleh Nicolai Fuglsig ini juga dilengkapi dengan adegan-adegan kocak yang lumayan konyol dan drama yang manusiawi. Jadi, jangan sampai lupa untuk menyaksikan film 12 Strong yang telah diputar di bioskop-bioskop Indonesia.

Post Author: Escravania

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.