Darkest Hour Review

Invasi Jerman di awal Mei 1940 menjadi titik balik perjuangan Winston Churchill (Gary Oldman) dalam memimpin Inggris di era paling gelap yang pernah terjadi dalam sejarah Inggris. Hampir seluruh Eropa Barat kecuali Prancis telah dikuasai Jerman dan partai oposisi tidak percaya terhadap Perdana Menteri Neville Chamberlain (Ronald Pickup). Pada akhirnya, Neville Chamberlain mendapat mosi tidak percaya dalam rapat parlemen.

Saat ditunjuk untuk menggantikan Neville Chamberlain, Viscount Halifax (Stephen Dillane) menolak dengan alasan belum waktunya memimpin Inggris. Chamberlain lalu mengajukan nama Churchill yang tidak populer namun dapat menyatukan ketiga partai besar yang kala itu menguasai parlemen.

Setelah nama itu disetujui oleh Raja George VI (Ben Mendelsohn) yang saat itu merupakan Raja Inggris, Churchill menjadi Perdana Menteri. Hal tersebut sekaligus memberikan Churchill mandat sangat berat, yaitu mencegah Inggris terseret dalam Perang Dunia ke-2 yang sedang berkecamuk di Eropa Barat.

Langkah besar pertama Churchill adalah memulangkan hampir 400 ribu pasukan Inggris yang terjebak di Dunkirk. Caranya,  dengan memerintahkan pasukan Inggris di Calais untuk menyerang Jerman untuk mengalihkan perhatian Jerman ke Dunkirk. Namun bukannya menggunakan kapal perang, Churchill malah memerintahkan semua perahu nelayan yang ada untuk menjemput semua tentara itu dan memulangkannya kembali ke Inggris.

Penggalan cerita di awal karir Churchill sebagai Perdana Menteri Inggris yang dikisahkan dalam film yang disutradarai oleh Joe Wright (Pride and Prejudice, Atonement) ini cenderung berani dan riskan. Film yang tergolong ringkas namun padat dan lumayan detil ini memang mempunyai perspektif berbeda dari film Churchill (2017) yang dibintangi Brian Cox. Dimana film tersebut mengambil masa-masa terpenting Churchill kala menjabat sebagai Perdana Menteri.

Dengan timeline yang relatif pendek, hanya sekitar dua bulanan saja, film ini mampu berbicara banyak lewat Gary Oldman yang mampu menggambarkan Winston Churchill dengan sangat rincinya. Segala atribut yang melekat pada Churchill mampu diperankan dengan maksimal. Dimana atribut terpentingnya adalah intonasi, gaya berbicara, gaya saat berjalan maupun kebiasaannya merokok cerutu dan minum minuman keras di waktu sarapan, makan siang dan makan malam.

Joe Wright memang selalu menampilkan gambar indah di semua filmnya. Naskah yang ditulis oleh Anthony McCarten (The Theory Of Everything) juga tidak terlalu kaku dalam mengadaptasi cerita ini. Selain itu, kelucuan juga ditunjukkan Churchill kepada orang di sekitarnya, baik kepada istrinya, Clemmie (Kristin Scott Thomas) ataupun sekretarisnya. Elizabeth Layton (Lily James) lewat tingkah lakunya yang kadang mengundang gelak tawa.

Film yang menawan ini dapat diwujudkan lewat beberapa aspek yang digarap dengan sangat baik. Setting yang detil, sinematografi yang indah, dan kepiawaian make-up artist yang bisa membuat Gary Oldman bertransformasi menyerupai Churchill dengan radikal.

Hasilnya, Gary Oldman berhasil menyabet penghargaan sebagai aktor terbaik drama dalam Golden Globe 2018 dan bukan tidak mungkin nantinya juga akan memperoleh nominasi keduanya dalam Piala Oscar sejak Tinker Tailor Soldier Spy (2011).

Bagi Laikers yang ingin menyaksikan film ini, nantikan saja kehadirannya di bioskop-bioskop Indonesia pada tanggal 19 Januari 2018.

Post Author: Escravania

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.