Downsizing Review

Film garapan sutradara Alexander Payne (The Descendants, Nebraska) terkait dengan isu mengecilkan tubuh (downsizing) sebenarnya bukan ide baru. Telah ada beberapa film lawas seperti The Incredible Shrinking Man (1957) atau Honey I Shrunk The Kids (1989) yang sebenarnya cukup terkenal, namun keduanya digarap dengan gaya scince fiction dan komedi yang kental. Kedua contoh film itu memberi contoh kalau ide mengecilkan tubuh sebenarnya merupakan tema yang mudah dicerna dan dijual untuk khalayak luas terutama bagi penggemar film kebanyakan.

Penemuan brilian yang dilakukan peneliti Norwegia Dr. Jorgen Asbjornsen (Rolf Lassgard) berhasil mengecilkan tikus, dan pada akhirnya dari penemuan itu, Dr. Jorgen bersama istri dan sejumlah temannya pun menjadi generasi pertama yang dikecilkan dari percobaan fenomenal ini. Dengan tinggi hanya 12 cm, mereka menjadi ikon untuk orang-orang di dunia yang merasa senasib dengan mereka dan memilih untuk di-downsizing.

Beberapa tahun kemudian, penemuan ini dijual lewat perusahaan Leisureland yang menjual ide downsizing secara permanen demi alasan ekonomis dan lingkungan. Beberapa orang ikut diantaranya Dave Johnson (Jason Sudeikis) dan istrinya, dimana mereka berdua datang ke acara reuni sekolah mereka dengan wujud sudah dikecilkan. Tak lama, Paul Safranek (Matt Damon) dan istrinya Audrey Safranek (Kristen Wiig) melihat temannya itu dan tertarik untuk ikut downsizing dan pindah ke Leisureland karena kondisi keuangan Paul yang tidak mampu untuk membeli rumah yang layak dari rumah mereka sekarang.

Pada akhirnya mereka sepakat untuk bersama-sama mengecilkan tubuh, namun Audrey membatalkan niatnya karena dirinya tidak siap. Dan mulailah petualangan baru Paul di dunia yang serba kecil di Leisureland. Semua dijalaninya sendiri sampai pada akhirnya dia harus kehilangan rumah mewahnya akibat sang istri menceraikan dirinya dan meminta harta gono gini.

Pindahlah Paul ke flat kecil dimana dia mulai merasa kesepian dan mulai mencari pasangan hidup untuk dirinya sendiri. Di flat itu juga ia bertemu tetangganya di lantai atas, Dusan Mirkovich (Christoph Waltz) dan temannya Konrad (Udo Kier) yang menjadi teman barunya. Kegalauannya akan kesendirian yang ia alami, dia habiskan dalam pesta semalaman di rumah Dusan. Keesokannya, Paul bertemu asisten rumah tangga, Ngoc Lan Tran (Hong Chau), yang tadinya merupakan imigran gelap asal Vietnam yang sedang membersihkan rumah Dusan. Pertemuannya dengan Ngoc akan mengubah cara pandangnya dalam mencari tujuan hidup yang selama ini ia cari.

Film komedi satir ini digarap dengan sangat serius dengan bujet mencapai $68 juta. Keseriusan ini tampak pada ide dasarnya yang sebenarnya biasa saja namun dikemas dengan cerita dan setting yang tidak bisa disandingkan dengan film lain. Plot ceritanya pun terasa menjanjikan sejak awal. Alurnya berjalan agak lambat karena Payne menggunakan timeline relatif panjang untuk menjelaskan film ini.

Namun keseriusan ini perlahan mulai sirna saat banyak cerita yang dilewatkan begitu saja tanpa ada penjelasan, dan isu lingkungan yang diusung dengan megah dalam trailer film ini juga cenderung mengaburkan perspektif Laikers akan tujuan akhir film ini.  Laikers seakan digiring mengikuti karakter Paul yang notabene seperti orang kehilangan tujuan setelah menjadi kerdil dan ditinggal cerai istrinya. Cerita yang semestinya menjadi landasan kuat dari sang aktor malah melemah dan kehilangan momennya setelah film berjalan setengah jalan.

Alhasil, film ini dapat membuat penonton awam bingung dan bertanya-tanya akan nasib penemuan besar yang digadang-gadang akan membuat penonton terpukau akan kejeniusan Payne di awal film dimulai. Adanya kebocoran gas metana di kutub utara yang menjadi alasan dibalik eksodus generasi pertama di Norwegia menjadi pertanyaan serius yang cenderung memfalsifikasi cerita yang memang sudah terjalin apik di dalam film ini.

Interaksi dan visualisasi dari orang-orang downsizing yang dikomparasi dengan orang versi skala manusia sangat sedikit digambarkan, itupun hanya di awal dan dalam skala kecil. Bahkan dengan alam sekitarnya dan binatang liar hanya sedikit sekali digambarkan, itupun hanya di Norwegia, dengan kupu-kupu dan capung yang sedang terbang,  bukan dengan binatang liar di alam yang lebih realistis seperti nyamuk atau semut.

Bagi Laikers yang tertarik untuk menyaksikan film ini, nantikan kehadirannya pada 2 Februari 2018 di bioskop-bioskop terdekat di seluruh Indonesia.

 

 

Post Author: Escravania

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.