Insidious: The Last Key Review

Film Insidious: The Last Key merupakan instalasi keempat dari franchise Insidious, sekaligus merupakan prekuel kedua setelah film Insidious: Chapter 3 (2015). Dalam film Insidious: Chapter 3, Laikers telah menyaksikan bagaimana Elise bertemu dengan dua orang asistennya, Specs (Leigh Whannel) dan Tucker (Angus Sampson). Dan dalam film terbaru ini, Laikers akan menyaksikan petualangan pertama mereka bertiga dalam menghadapi teror iblis yang memiliki hubungan erat dengan masa lalu Elise.

Menyambung film terdahulunya, Elise yang baru saja pindah dan tinggal bersama kedua asistennya menerima permintaan dari seorang pria yang ingin agar Elise melenyapkan setan yang mengganggu di kediamannya. Masalahnya, pria tersebut, Ted Garza (Kirk Acevedo), tinggal dalam rumah yang dahulu ditinggali oleh Elise di masa kecilnya.

Elise tidak memiliki kenangan indah dalam rumah tersebut. Selain harus menghadapi ayahnya (Josh Stewart) yang takut akan kekuatannya, Elise kecil juga harus berhadapan dengan iblis yang tinggal di rumah tersebut. Saat Elise akhirnya memenuhi permintaan Ted Garza dan mendatangi rumah yang dulu pernah ditinggalinya tersebut, Elise bertemu dengan adiknya (Bruce Davison) dan kedua keponakannya, Imogen (Caitlin Gerard) serta Melissa (Spencer Locke).

Kehadiran Elise dan asistennya dalam rumah tersebut membangkitkan masa lalu Elise yang telah lama terkubur. Mau tidak mau Elise pun harus bertarung dengan iblis yang membawa kunci dari seluruh malapetaka dan penderitaan dalam kehidupannya. Untungnya, berbeda dengan masa lalu, kali ini Elise tidak berhadapan sendiri dengan iblis tersebut. Dukungan dari orang-orang terdekatnya membuat Elise bertekad untuk mengentikan teror iblis tersebut untuk selamanya.

Salah satu faktor positif dalam film Insidious: The Last Key ini adalah pendekatan dari segi melodrama keluarga dan kisah menghadapi masa lalu yang kelam. Kedua hal tersebut membuat film ini terasa berbeda jika dibandingkan film horor lain pada umumnya. Selain itu, masih ada adegan pencarian barang yang dilakukan dalam suasana yang cukup mencekam. Dilengkapi dengan adegan-adegan jump scare di beberapa tempat, membuat film ini sangat layak disaksikan bagi Laikers yang gemar menonton film horor.

Satu hal yang pasti, efek terbesar diberikan film ini adalah rasa ngeri yang ditimbulkan akibat penderitaan yang dialami di masa kecil, dimana kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga merupakan hal utama yang disorot di dalamnya. Pada saat itulah Laikers menyadari bahwa ketakutan terbesar dirasakan oleh seeorang bukan melulu dari hal-hal supernatural, melainkan dari kekejaman yang dilakukan oleh manusia biasa. Paling tidak film Insidious: The Last Key berhasil menyampaikan rasa ngeri tersebut kepada para penontonnya.

Bukan berarti film ini merupakan sebuah film horor yang sempurna. Permasalahan utama dalam sebuah film horor yang berkisah tentang pemusnahan iblis atau setan, para karakter utamanya selalu digambarkan memasuki kehidupan orang lain, dimana terkadang karakter tersebut tidak berkaitan dengan iblis yang harus dilenyapkan. Hal tersebut juga terjadi dalam film ini, dimana hampir semua karakter pembantunya tidak terekplorasi dengan mendalam.

Karakter-karakter tersebut seakan hanya hadir untuk mendukung karakter Elise sepenuhnya. Jadi keberadaan mereka seakan menjadi kurang relevan atau berarti. Salah satunya adalah karakter Imogen yang memiliki aksi penting di akhir film dan juga tidak mendapatkan spotlight serta latar belakang karakter yang berarti.

Bagaimanapun, mengingat film ini merupakan prekuel dari film Insidious (2010) dan Insidious: Chapter 2 (2013), maka Laikers telah mengetahui secara pasti nasib yang bakal menimpa Elise dan kedua asistennya. Bagi Laikers yang belum menyaksikan kedua film tersebut, ada baiknya mencoba menyaksikan keduanya.

Meski memiliki beberapa plot hole yang sedikit mengganggu, namun Leigh Whannel dan Adam Robitel berhasil memberikan beberapa twist, jump scare, dan humor dalam film ini. Berkaitan dengan adegan humor, tentunya hal tersebut bukan merupakan hal yang mudah, mengingat setting film ini yang dibuat terlihat gelap dan lumayan mencekam. Dan yang pasti, sekali lagi Lin Shaye membuktikan bahwa dirinya merupakan artis yang sangat tepat untuk terus menjadi karakter utama dalam franchise ini.

Secara garis besar, film Insidious: The Last Key bukanlah merupakan sebuah film horor yang berat. Bagi Laikers yang sebelumnya telah menyaksikan ketiga film Insidious, tidak ada salahnya menyaksikan film ini untuk mengetahui sisi kelam dari kehidupan masa lalu Elise.

Akhir kata, film Insidious: The Last Key memang masih terasa kurang jika dibandingkan dengan film Insidious dan Insidious: Chapter 2, namun jelas jauh lebih baik jika dibandingkan dengan film Insidious: Chapter 3. Satu hal yang pasti, instalasi keempat dari franchise Insidious ini dipastikan dapat mengobati rasa kangen Laikers akan sebuah film horor supranatural yang lumayan apik.

Post Author: Escravania

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.