Jigsaw Review

Film Saw pertama kali dirilis pada tahun 2004 dan menuai sukses yang luar biasa. Setelah itu, tahun demi tahun Lionsgate merilis film Saw terbarunya, hingga berhenti pada instalasi ketujuh, Saw 3D, pada tahun 2010. Saat ini, pada tahun 2017, franchise horor ini kembali melalui instalasi kedelapannya, Jigsaw.

Sayangnya, Jigsaw tidak dapat memberikan kesuksesan yang berarti bagi franchise ini. Film yang hanya berdurasi 92 menit ini terasa sangat kurang, apalagi jika dibandingkan dengan film Saw VI (2009) yang dinilai lumayan sukses memuaskan para pecinta horor karena plot twist­­-nya yang terasa original.

Saat menonton film Jigsaw, Laikers akan merasa bagaikan melakukan sebuah perjalanan penuh nostalgia. Dimulai dari background musik yang terasa familiar dan dilanjutkan dengan adegan-adegan yang telah terbiasa disaksikan dalam franchise-nya. Sebenarnya banyak yang dapat diolah dalam film ini. Namun semuanya kandas dari segi para pemainnya yang terasa serba tanggung ditambah dengan dialog yang terasa canggung. Belum lagi, kurangnya adegan gore yang selalu menjadi ciri khas franchise Saw. Untungnya, film ini dapat Laikers saksikan tanpa perlu menyaksikan 7 film sebelumnya. Meski, setelah menonton Jigsaw, belum tentu juga Laikers berniat untuk menonton film- film pendahulunya.

Film Jigsaw dibuka dengan adegan seorang penjahat yang dikejar-kejar  oleh belasan polisi, sebuah adegan aksi yang jarang sekali terlihat dalam franchise Saw. Adegan pembuka yang cukup menjanjikan ini membawa secercah harapan dalam instalasi kedelapan Saw. Sayangnya, karakter pemeran utama yang tidak digali secara mendalam membuat film ini jadi terasa monoton. Bagaimanapun, tampaknya dalam franchise ini belum ada karakter yang dapat dibandingkan dengan kepiwaian karakter Mark Hoffman yang diperankan dengan sangat apik oleh Costas Mandylor.

Seperti film-film pendahulunya, beberapa adegan dalam Jigsaw juga mengetengahkan prosedur kepolisian. Dimana polisi dan koroner berusaha memecahkan misteri para korban yang terperangkap dalam sebuah permainan mengerikan dalam rangka menebus dosa yang pernah mereka lakukan. Semuanya dilengkapi dengan suara khas Tobin Bell yang dipastikan dapat membuat orang yanng mendengarnya merinding.

Sebenarnya, banyak hal yang dapat digali dalam film ini. Contohnya, referensi petunjuk mengenai warisan nama ‘Jigsaw’ dari John Kramer untuk pengikutnya. Atau petunjuk nyata akan adanya sekelompok orang yang memuja-muja ‘Jigsaw’.  Sungguh teramat disayangkan bahwa semuanya hanya divisualisasikan secara metafora saja, tanpa adanya sesuatu yang nampak riil. Belum lagi adegan akhirnya yang tampak seperti kehilangan momentum, meski susunan cerita dan petunjuk-petunjuk palsu telah disebar dengan cukup rapi dan menyakinkan.

Jigsaw mungkin tidak sejelek Saw 3D (2010), namun tetap merupakan sebuah film franchise yang seakan telah kehilangan jiwanya. Dengan kata lain, film yang disutradarai oleh Peter Sprieg dan Michael Sprieg (Daybreakers, Predestination) berdasarkan naskah yang ditulis oleh Josh Stolberg dan Peter Goldfinger ini terasa sangat hambar serta lebih cocok untuk dinikmati melalui DVD. Memang plot twist yang diletakkan di penghujung film terasa sedikit membantu, tapi tetap saja tidak dapat menyelamatkan film ini.

Bagi Laikers yang merupakan penggemar setia franchise Saw, Jigsaw merupakan salah satu film yang cukup pantas untuk dinikmati. Meski tidak memberikan sesuatu yang baru, paling tidak film ini dapat mengobati kerinduan para penggemar setianya, setelah abstain selama tujuh tahun.

Post Author: Escravania

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.