Journey to The West: The Demons Strike Back review

Kisah perjalanan Biksu Tang bersama ketiga muridnya dalam mencari kitab suci selalu menjadi kisah yang menarik dan penuh dengan petualangan. Oleh karena itu, film karya Stephen Chow (Shaolin Soccer, Kungfu Hustler) dan Tsui Hark (Detective Dee and The Mystery of The Phantom Flame, The Taking of Tiger Mountain) ini sangat cocok untuk menyambut dan merayakan Tahun Baru Cina.

Journey to The West: The Demons Strike Back menceritakan mengenai perjalanan Biksu Tang Sanzang (Kris Wu) menuju ke India untuk mencari kitab suci. Dalam perjalanannya tersebut, Biksu Tang juga ditemani oleh ketiga muridnya, Sun Wukong (Lin Gengxin), Piggy (Yang Yiwei), dan Sandy (Mengke Bateer). Sepanjang perjalanan, mereka harus berhadapan dengan berbagai macam halangan, seperti bertarung dengan siluman laba-laba dan berhadapan dengan seorang raja yang aneh (Bao Bei-er) serta menterinya (Yao Chen). Bukan itu saja, hubungan antara Biksu Tang dengan ketiga muridnya yang tidak terlalu harmonis juga menjadi kisah yang menarik dalam film ini.

Journey to The West, The Demons Strike Back merupakan sekuel dari Journey to The West: Conquering The Demons (2013) dengan perubahan yang cukup signifikan. Meskipun tidak selucu film pendahulunya, film ini tetap menampilkan beberapa lelucon khas Stephen Chow. Seperti Piggy yang selalu mengeluarkan air liur secara berlebihan dan sepasang wanita tua yang seharusnya merupakan sepasang gadis berusia 16 tahun. Selain itu seluruh pemeran inti dalam film ini pun berubah. Biksu Tang tidak lagi diperankan oleh Wen Zhang, melainkan oleh Kris Wu, aktor yang juga salah satu anggota EXO China yang baru-baru ini juga berakting dalam xXx: Return of Xander Cage.

Salah satu hal yang menarik dalam film ini adalah penggunaan CGI yang sangat melimpah. Dimulai dari penggambaran hutan yang kering kerontang, kerajaan yang penuh warna, dan pertarungan dahsyat Sun Wukong.  Beberapa adegan dalam pertarungan mungkin akan mengingatkan kita akan film Legend of Zu (1983) yang juga merupakan salah satu karya Tsui Hark yang sangat memorable.

Post Author: Escravania

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.