Murder on the Orient Express Review

Film terbaru 20th Century fox yang diadaptasi dari novel detektif terkenal karya Agatha Christie, Murder on the Orient Express telah dapat Laikers saksikan di bioskop-bioskop Indonesia. Film yang dipenuhi dengan bintang-bintang Hollywood papan atas ini akan bersaing dengan film-film seperti Justice League, Coco, dan Chasing the Dragon, di awal peredarannya.

Film Murder on the Orient Express (1974) dan Death on the Nile (1978) merupakan dua buah film adaptasi Agatha Christie yang memperoleh sukses luar biasa dan menjadi favorit semua orang. Oleh karena itulah besar sekali harapan para penggemar karya Agatha Christie begitu melihat trailer pertama dari film Murder on the Orient Express yang disutradarai oleh Kenneth Branagh ini. Apalagi melihat bintang-bintang yang akan berperan di dalamnya. Tentunya, film ini menjadi sebuah film yang layak untuk disaksikan.

Sayangnya, segalanya tidak sesuai dengan harapan. Dalam 30 menit pertama, film ini terasa cukup menjanjikan. Meski visualisasi akan Hercule Poirot yang diperankan oleh Kenneth Branagh sangatlah jauh dari bayangan atau penggambaran seorang Hercule Poirot yang terdapat dalam novelnya. Namun, lewat dari 30 menit pertama tersebut, film ini mulai mengalami penurunan di berbagai aspek, terlebih di bagian pendalaman karakter dan detil setiap adegan yang tampaknya dikerjakan secara terburu-buru. Dengan kata lain, adegan pembunuhan, pencarian petunjuk, dan penyelidikan, semuanya dilakukan dengan terburu-buru.

Kisah dalam Murder on the orient Express dibuka dengan adegan Hercule Poirot memecahkan misteri pencurian sebuah relik keramatdi Jerusalem. Selesai memecahkan misteri tersebut, Hercule Poirot pun melakukan perjalanan ke London dengan menggunakan kereta Orient Express. Meski saat itu Orient Express telah penuh, namun Poirot berhasil mendapatkan tempat, berkat bantuan temannya, Bouc (Tom Bateman).

Dalam perjalanan, Poirot menolak permintaan Samuel Ratchett (Johnny Depp), seorang pengusaha, yang menerima banyak surat ancaman dan ingin Poirot melindunginya selama perjalanan. Malamnya, Poirot mendengar suara-suara aneh dari kamar Ratchett dan melihat seorang seorang wanita menggunakan kimono merah lari di lorong. Setelah itu, mendadak kereta Orient Express keluar dari jalur akibat longsornya salju.

Paginya, Poirot mengetahui bahwa Ratchett telah terbunuh. Bersama dengan Bouc, Poirot pun berusaha keras untuk mengungkap pelaku pembunuhan tersebut. Tentunya hal tersebut tidak gampang, karena seluruh penumpang Orient Express dicurigai sebagai pelakunya. Mereka adalah Pilar Estravados (Penelope Cruz), Gerhard Hardman (Willem Dafoe), Putri Dragomiroff (Judi Dench), Hector MacQueen (Josh Gad), Masterman (Derek Jacobi), Dr. Arbuthnot (Leslie Odom Jr.), Caroline Hubbard (Michelle Pfeiffer), Mary Debenham (Daisy Ridley), Hildegarde Schmidt (Olivia Colman), Helena Andrenyi (Lucy Boynton), Marquez (Manuel Garcia-Rulfo), Pierre Michel (Marwan Kenzari), dan Rudolph Andrenyi (Sergei Polunin).

Dengan sedemikian banyaknya bintang-bintang berkelas dalam sebuah film berdurasi 114 menit, tentu tidak semuanya memperoleh sorotan yang sama. Meski demikian, Johnny Depp tetap terlihat memukau dalam penampilannya sebagai seorang pengusaha yang kejam dan sedikit sombong. Hasilnya, karakter yang dibawakannya, terlihat sangat berkarisma. Berbeda sekali dengan Daisy Ridley, yang tampaknya tidak dapat mengembangkan peran yang dibawakannya secara maksimal.

Selain Johnny Depp, penampilan Michelle Pfeiffer juga layak dipuji. Istri dari David E. Kelley (Picket Fences, Ally McBeal) ini tampak menjelma sepenuhnya dalam karakter yang diperankannya. Selain itu, Michelle Pfeiffer juga menyumbangkan suara lembutnya untuk lagu penutup film ini yang bejudul Never Forget, karya komposer Patrick Doyle (Thor, Rise of the Planet of the Apes).

Jika dibandingkan dengan film Murder of the Orient Express karya Sydney Lumet yang dirilis pada tahun 1974, film ini memang memiliki banyak kekurangan. Bukan itu saja, film adaptasi terbaru ini juga berusaha memberikan sosok Hercule Poirot yang berbeda, dimana detektif terkenal ini digambarkan memiliki jiwa yang tersiksa, terlihat dari beberapa kali dirinya dengan tatapan sedih memandang foto seorang wanita. Intinya, Hercule Poirot versi baru ini sungguh terasa sekaligus terlihat berbeda dari berbagai hal.

Satu hal yang patut diacungi jempol dalam film ini adalah sinematografinya. Sang sinematografer, Haris Zambarloukos (Cinderella, Eye in the Sky) dan desainer Jim Clay (RED 2, Love Actually), benar-benar menghasilkan sebuah setting yang sempurna. Dimana Laikers akan melihat keindahan desain dalam gerbong kereta sekaligus keindahan panorama melalui jendela kereta api. Nuansa hujan salju yang menerpa sepanjang perjalanan pun dapat menambah segi dinamis dan emosional dalam film ini.

Film Murder on the Orient Express memang belum sekelas film pendahulunya. Namun bagi Laikers yang menyukai film-film bertema detektif dan menyelidiki suatu misteri, film ini cukup layak untuk disaksikan. Bisa jadi setelah menonton film ini, Laikers pun penasaran dan ingin membaca novelnya.

Post Author: Escravania

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.