Pitch Perfect 3 Review

Saat film Pitch Perfect pertama kali dirilis lima tahun yang lalu, film tersebut terbawa naik namanya oleh beberapa serial televisi musikal, seperti High School Musical dan Glee. Setelah itu, film Pitch Perfect 2 yang dirilis pada tahun 2015 juga menuai kesuksesan yang besar dan membuat pihak Universal pun menggarap film Pitch Perfect 3.

Film Pitch Perfect 3 masih memiliki formula dan nuansa yang sama dengan dua film sebelumnya. Karena itulah, dalam film ini tidak lagi terasa ada sesuatu yang baru atau fresh. Hampir keseluruhan adegan terasa sama dan membuat Laikers seakan mengalami dejavu.

Film ini dibuka dengan adegan para Bella menyanyi lagu Toxic di atas kapal. Tiba-tiba Fat Amy jatuh dari langit-langit dan menyemprot tiga pria di atas kapal tersebut dengan alat pemadam api. Terjadi ledakan dimana-mana dan Beca  serta Fat Amy pun melompat dari atas kapal. Setelah adegan pembuka yang lumayan fantastis tersebut, kisah pun mundur pada 3 minggu sebelum hal tersebut terjadi.

Para Bella mengalami kehidupan yang lumayan sulit. Fat Amy menganggur dan menumpang di tempat Beca. Beca berseteru dengan kantornya dan memutuskan untuk behenti bekerja. Setiap anggota Bella mengalami kondisi yang buruk di kehidupan pribadi mereka. Satus-satunya hal yang dapat menghibur mereka hanyalah kemungkinan untuk berkumpul dan menyanyi bersama lagi.

Mereka pun memutuskan untuk tampil menghibur para tentara dalam ajang tur USO (United Service Organizations). Sayangnya, begitu tiba di sana, mereka harus menghadapi kenyataan bahwa musik yang mereka bawakan, jauh berbeda dibandingkan dengan musik peserta tur USO yang lain. Selain itu,, para Bella juga baru mengetahui bahwa ajang tur Uso merupakan sebuah kompetisi mini dan peserta terbaik akan memperoleh kehormatan untuk membuka show DJ Khaled.

Selain premis utamanya, film ini juga menyuguhkan cerita yang mengisahkan reuni yang terjadi antara Fat Amy dan ayahnya yang diperankan oleh John Lithgow. Ayah Fat Amy memiliki masa lalu yang gelap dan motif tertentu saat mendekati Fat Amy. Selain itu juga masih ada cerita-cerita asmara yang terjadi pada anggota Bella, serta kisah dua komentator, John (Michael Higgins) dan Gail (Elizabeth Banks) yang sibuk membuntuti para Bella.

Film ini lagi-lagi merupakan film yang tampak dibuat khusus untuk Anna Kendrick (Beca) dan Rebel Wilson (Fat Amy). Di balik keduanya, tentu ada jajaran pemain yang memberikan performa yang lumayan solid seperti Haillee Steinfeld (Emily), Brittany Snow (Chloe), dan Anna Camp (Aubrey). Selain itu, masih ada Ruby Rose (Calamity) yang memimpin grup musik, Ever Moist, rival dari para Bella.

Persaingan yang terjadi antara Bella dan Ever Moist seharusnya dapat menjadi adegan yang lumayan seru, sayang adegan tersebut seakan terlantar begitu saja. Karakter yang dibawakan oleh Ruby Rose juga seakan tidak dapat berkembang sama sekali. Ruby Rose nampak membawakan perannya dengan penuh batasan dari naskah ceritanya. Selain Ruby Rose, karakter yang diperankan oleh John Lithgow juga tidak dapat berkembang secara natural.

Meski demikian, film Pitch Perfect 3 masih merupakan sebuah film yang terasa menyenangkan untuk disaksikan. Memang, film ini seakan telah kehilangan elemen potensial lainnya, namun Rebel Wilson masih dapat menyelamatkan film ini dengan adegan-adegan kocaknya. Bagaimanapun, film Pitch Perfect 3 merupakan sebuah film yang digarap sebagai film penutup dan perpisahan dengan para anggota Bella.

Bagi Laikers yang telah mengikuti perjalanan para Bella semenjak film Pitch Perfect yang pertama, tidak ada salahnya menyaksikan instalasi terakhir dari franchise ini. Meski tidak sehebat dua film pendahulunya, film Pitch Perfect 3 dipastikan dapat menghibur Laikers, terutama saat menyaksikan aksi Rebel Wilson.

 

Post Author: Escravania

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.