Ready Player One Film Review

Film terbaru Steven Spielberg ini adalah sebuah adaptasi dari Novel karya Ernest Cline. Di masa depan, pada tahun 2045, dunia sudah banyak berubah, di mana setelah bencana kekacauan bandwidth dan kelangkaan sirup jagung, mayoritas penduduk dunia hidup di bawah garis kemiskinan. Kebanyakan orang akhirnya memutuskan untuk lari dari kenyataan dan memilih untuk lebih banyak menghabiskan waktu mereka dalam sebuah game virtual reality bernama Oasis.

Dalam kisah ini, kita akan mengikuti jalan cerita dari sudut pandang Wade Watts. Wade adalah seorang Gunter, alias Egg Hunter. Egg Hunter adalah sebutan untuk para pemain elit yang mendedikasikan hidup mereka untuk mencari Easter Egg yang disembunyikan oleh pencipta Oasis, James Halliday di dalam ciptaannya. Ribuan orang mencari Easter Egg ini karena Halliday dalam wasiatnya menyatakan bahwa siapapun yang berhasil mendapatkan Easter Egg tersebut akan menjadi penguasa Oasis sekaligus menjadi pemilik tunggal dari Gregarious Games, perusahaan yang mengoperasikan Oasis.

Untuk mendapatkan petunjuk mengenai keberadaan Easter Egg, ada tiga buah kunci yang harus ditemukan oleh para Gunter. Nah, perjuangan mendapatkan kunci ini yang seringkali mengecoh para Gunter, yang mengira bahwa kemampuan bermain game balap dan game lagalah yang akan mengantarkan mereka ke lokasi kunci-kunci tersebut. Wade yang sangat menyukai Oasis dan memuja Halliday, akhirnya justru menemukan petunjuk lain setelah bertemu dengan Art3mis. Seorang Gunter lain yang memiliki skill di atas rata-rata.

Dalam Oasis, Wade yang memiliki avatar bernama Parzival akhirnya memutuskan untuk bekerjasama dengan Art3mis, Aech, Daito dan Soho untuk mencari kunci-kunci tersebut. Ini disebabkan adanya musuh bersama mereka yaitu Nolan Sorrento yang juga berambisi untuk menjadi penguasa Oasis dan Gregarious Games. Nolan adalah pimpinan dari Innovative Online Industries, perusahaan teknologi dan ISP terbesar yang berusaha menguasai seluruh aset Gregarious Games dengan berbagai cara. Termasuk dengan cara meneror Parzival dan kawan-kawannya di dunia nyata.

Dalam film Ready Player One ini, mayoritas filmnya menceritakan aksi Parzival di dalam Oasis. Boleh dibilang lebih dari 60% film ini memang menggunakan CGI secara penuh. Untungnya, di bawah arahan Spielberg, hasil kerja studio Industrial Light and Magic sangatlah keren dan rapi. Di jaman sekarang ini, penggunaan efek CGI memang sudah sangat wajar, tetapi jika digunakan dengan tidak hati-hati, kadang penontonnya justru akan mengalami rasa pusing ketika menonton film tersebut. Di sini, hal itu sama sekali tidak terjadi meskipun hampir sepanjang film adalah adegan CGI yang penuh dengan ledakan dan berbagai efek visual lainnya. Spielberg dan timnya juga benar-benar menguasai seluruh adegan dalam film ini. Sering kali dalam satu adegan, ada 2 atau 3 hal yang terjadi secara bersamaan dan yang serunya, kita bisa menikmati adegan tersebut secara keseluruhan tanpa perhatian kita teralihkan dari cerita utama.

Di awal film, kita sudah disuguhi oleh balapan besar-besaran untuk menuju lokasi kunci pertama. Asyiknya, dalam adegan ini kita disuguhi begitu banyak kendaraan yang muncul dalam berbagai film-film era 70 dan 80-an. Pastinya Laikers akan dapat langsung mengenali kendaraan-kendaraan legendaris seperti DeLorean dari Back to the Future, Batmobile, Christine si mobil pembunuh dari kisah Stephen King, mobil van milik A Team, Interceptor dari film Mad Max, motor milik Kaneda dari anime Akira, dan Mach 5 dari film Speed Racer.

Pun demikian halnya dengan berbagai avatar dan aksesoris yang digunakan oleh para pemain Oasis. Saya sudah sempat melihat adanya referensi dari film film seperti Battletoads!, Thundercats, Child’s Play, Nightmare on Elm Street, Jurassic Park, Mobile Suit Gundam, Iron Giant, Robocop, dan Lords of the Rings. Referensi dari videogames seperti Tomb Raider, Overwatch, World of Warcraft, Street Fighter, dan Mortal Kombat. Referensi dari komik juga ada, contohnya, Harley Quinn, Joker, dan Deathstroke. Dari industri musik, kita juga disuguhi dengan berbagai music era 80-an seperti lagu lagu dari Hall and Oates, Van Hallen, Duran-Duran, New Order, topi pot kembang a la Devo dan kaos Joy Division.

Menonton film ini benar-benar sebuah pengalaman yang menyenangkan. Dari awal sampai akhir, interaksi dan aksi para tokoh-tokohnya terlihat begitu meyakinkan untuk ukuran perilaku penduduk dunia di masa depan. Misalnya, seorang avatar yang terlihat begitu menyeramkan dalam Oasis, saat sedang menerima tugas untuk menghabisi avatar lainnya, tiba-tiba saja bisa mengeluhkan tentang sakit leher yang dialaminya di dunia nyata, begitu pula saat dia menyatakan tidak ingin kehilangan hasil perjuangannya selama bertahun-tahun di dunia Oasis.

Pada akhirnya, saat film telah usai, Laikers bisa dipastikan akan merasakan sebuah rasa puas yang menyenangkan. Tentu saja, kepuasan tersebut akan berlipat ganda jika memang menyukai budaya pop era 70 dan 80-an. Hampir bisa dipastikan kalian akan mencoba menonton Ready Player One sekali lagi demi mencari-cari berbagai referensi yang begitu banyak ditampilkan dalam film ini.

Post Author: Gegemania

Suka beli film tapi suka lupa nontonnya.  Senang beli buku, tapi suka lupa bacanya.  Sering beli game Steam tapi suka lupa maininnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.