Red Sparrow Review

Bagi Laikers yang demen nonton film tentang aksi mata-mata, film Red Sparrow merupakan film yg wajib ditonton. Dibintangi oleh Jennifer Lawrence, film ini bisa dipastikan akan membawa Laikers hanyut dalam ceritanya dan takjub akan twist di dalamnya.

Balerina terkenal asal Russia, Dominika Egorova (Jennifer Lawrence), mungkin tak akan mengira bahwa dirinya akan menjadi mata-mata bagi negaranya. Jikalau kakinya tak patah dalam suatu pagelaran balet besar yang sedang  dilakukannya. Namun begitulah yang terjadi di dalam suatu negara sosialis komunis yang semua berazazkan ‘demi kepentingan bersama’ begitupun juga soal ‘mengabdi bagi negara adalah sesuatu yang mutlak’ dan bahkan ‘mengalahkan segala-galanya termasuk ambisi pribadi’.

Setelah kakinya patah dan dirinya harus membiayai ibunya yang sedang sakit di apartemen, sang paman, Vanya Egorov (Matthias Schoenaerts) yang menjabat sebagai deputi intelijen Rusia, menawarkan pada Dominika untuk melenyapkan salah satu musuh negara, Dmitri Ustinov (Kristof Konrad) yang memang tertarik pada Dominika. Dominika yang terjebak oleh keadaan pun mau tidak mau melakukan kemauan sang paman.

Setelah berhasil, sang paman lalu memasukkannya ke sekolah Sparrow, yang merupakan sekolah bagi calon mata-mata. Di sekolah itu, Dominika belajar langsung dari sang mentor, Matron (Charlotte Rampling) untuk mempelajari segala jenis seduksi terhadap lawan jenis, suka atau tidak suka. Begitu pula halnya dengan kemolekan badannya yang menjadi senjata utama dalam menaklukkan setiap orang yang membahayakan negaranya.

Setelah sekian lama sekolah disitu, sang paman dan ketua intelijen Rusia, Zakharov (Ciaran Hinds) mengirimnya ke suatu misi penting untuk mendekati agen CIA, Nate Nash (Joel Edgerton) yang di awal cerita menghilang secara misterius sejak terjebak dalam baku tembak dengan polisi lokal di Rusia.

Misi bertemu Nash di Hongaria pun dirancang dengan detil sampai ia dapat melakukan kontak lebih dekat dengannya. Pertemuannya dengan Nash semakin membuka mata Dominika akan ketidakadilan yang dihadapinya di Rusia dan keinginannya untuk tinggal bersama ibunya.

Film yang disutradarai oleh Francis Lawrence (Hunger Games: Catching Fire, Hunger Games: Mockingjay Part 1 & 2) ini memang teramat beda dengan film-film bergenre mata-mata yang pernah beredar di Indonesia. Pendekatan yang dilakukan Francis dengan drama thriller psikologis ketimbang laga aksi yang biasanya muncul dalam genre ini menjadikannya jauh lebih kompleks dan berbobot dari segi cerita.

Dan hal tersebut membuat film yang dibuat berdasarkan novel ‘Red Sparrow Trilogy’ karya Jason Matthews ini terasa sangat berbobot.  Jason Matthews yang notabene merupakan mantan anggota CIA selama lebih dari 33 tahun sudah pasti merupakan referensi penting dalam membangun karakter mata-mata Rusia di sini.

Dengan durasi 140 menit, Laikers akan disuguhi aksi yang mencekam dari Dominika saat sedang menjalani tugasnya sebagai mata-mata. Walaupun film ini hadir dengan adegan aksi yang minim bukan berarti film ini lantas membosankan begitu saja. Aksi jual beli tipuan yang berlangsung di sepanjang film, memang merupakan tipikal film bergenre ini. Namun plot dan twist yang dilakukan Dominika menjelang akhir film membuat film ini sangat menarik. Dengan ending film yang sedikit di luar kebiasaaan film-film Hollywood, film ini berhasil menyuguhkan sajian prima khas mata-mata internasional yang belum bisa ditandingi film-film sejenis yang lebih banyak mengumbar aksi belaka ketimbang kekuatan intelektual personal.

 

 

Post Author: Escravania

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.