Review Film Peppermint

Peppermint mengisahkan perjuangan Riley North (Jennifer Garner) yang mencari keadilan bagi keluarganya. Di awal film, diperlihatkan bahwa suaminya (Jeff Hephner) dan putrinya (Cailey Fleming) dibunuh oleh beberapa anggota sindikat narkoba. Meskipun mengalami koma selama sebulan, Riley akhirnya siuman dan harus menghadapi kenyataan bahwa suami dan putrinya telah tiada.

Penyebab kemalangan keluarganya diduga berawal saat beberapa orang mengajak suaminya untuk merampok bos sindikat narkoba Diego Garcia (Juan Pablo Raba). Tidak disangka-sangka, rencana tersebut sampai ke telinga Garcia yang memutuskan untuk membunuh keluarga tersebut. Garcia digambarkan memiliki pengaruh kuat di pihak para penegak hukum, karenanya, meskipun North memberikan kesaksian dan bisa menunjukkan siapa saja yang menembak keluarganya, para penegak hokum membiarkan Garcia dan anak buahnya lepas dari jeratan hukum.

North yang histeris ketika menyadari hal tersebut akhirnya melarikan diri dan menghilang dari Los Angeles. Tidak disangka-sangka, setelah lima tahun kejadian tersebut berlalu, dalam saat yang berdekatan, berturut-turut para penegak hukum yang menikmati uang haram Garcia menemui ajalnya. Berbagai bukti segera mengarahkan kecurigaan bahwa North telah kembali dan melakukan berbagai pembunuhan tersebut. Yang menariknya, masyarakat yang mengetahui hal ini mendukung tindakan North dan menganggapnya pahlawan. Tetapi, apakah North akan berhasil menuntuk keadilan bagi keluarganya?

Jennifer Garner merupakan salah satu aktris yang memiliki pengalaman beraksi di dalam berbagai film dan serial laga seperti Elektra dan Alias. Karena itu, sangatlah wajar jika para penggemarnya mengharapkan Peppermint menjadi sebuah film aksi yang memuaskan. Tetapi tampaknya mereka harus mengubur impian mereka. Meskipun ditangani oleh sutradara laga Pierre Morel (Taken), terasa bahwa film ini gagal menyamai kualitas Taken. Bakat yang dimiliki Garner pun terasa tersia-sia di sini. Meskipun acting emosionalnya masih terlihat meyakinkan, adegan-adegan laganya terasa tidak meyakinkan. Para penjahat di sini terlihat seperti sekedar menunggu waktunya mereka dihabisi oleh tokoh Riley North. Tidak terlihat tangguh meskipun telah terbiasa menghadapi kehidupan jalanan yang keras.

Menyaksikan Peppermint masih tetap seru karena kita bisa melihat lagi aksi Garner sebagai jagoan wanita. Sayang ada banyak kekurangan di berbagai bagian film ini. Karena jika hal tersebut bisa diperbaiki, niscaya film ini akan jauh lebih mengasyikkan untuk ditonton. Mari kita berharap aka nada perubahan ke arah yang lebih baik, karena di akhir cerita, film ini mengisyaratkan munculnya sebuah sekuel.

Post Author: Gegemania

Suka beli film tapi suka lupa nontonnya.  Senang beli buku, tapi suka lupa bacanya.  Sering beli game Steam tapi suka lupa maininnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.