Shadow of the Colossus, Game Remake yang Menakjubkan

Game Shadow of the Colossus, sekilas terlihat bagaikan sebuah game dengan cerita sederhana, mengenai petualangan seorang pemuda dengan kudanya. Namun, di balik itu, terdapat sebuah kompleksitas cerita mengenai kesombongan, kehidupan, dan keserakahan yang menyebabkan seseorang rela melakukan segala hal atas nama cinta, meski tahu kalau hal yang dilakukannya akan menyebabkan bencana. Hal-hal tersebutlah yang membuat game ini menjadi salah satu game yang lumayan dibicarakan sepanjang sejarah perilisannya.

Dirilis pertama kali pada tahun 2005, game ini memberikan pelajaran berati mengenai rasa takut dan kasih sayang. Dengan premis sederhana, game ini mempersembahkan sebuah dunia dengan panorama yang lumayan asing dan kosong, namun masih terlihat indah. Dikisahkan bahwa seorang gadis telah tewas karena menjadi korban dari sebuah ritual. Konon, ada sebuah makhluk spiritual yang dapat menghidupkan sang gadis kembali. Wander, seorang pemuda yang sangat mencintai sang gadis, membawa mayat gadis tersebut ke dewa Dormin, yang berjanji akan menghidupkan sang gadis kembali. Bayarannya, Wander harus membunuh 16 makhluk raksasa yang hidup di dunia tersebut.

Saat ini, 12 tahun setelah versi originalnya dirilis, game Shadow of the Colossus telah kembali dengan berbagai update di sana sini untuk platform PlayStation 4. Yang pasti, keputusan Bluepoint Games untuk memodernisasi game yang satu ini terasa lumayan tepat. Dengan grafis yang jauh lebih halus daripada versi originalnya, game ini terasa jauh lebih fenomenal dan syahdu untuk dimainkan.

Bagaimana tidak syahdu, setiap aksi dalam game ini bagaikan melakukan sebuah ritual. Setiap kali hendak berhadapan dengan salah satu dari 16 makhluk raksasa, Laikers akan mendapati Wander terbangun di kuil dewa Dormin. Wander lantas menggunakan cahaya yang keluar dari pedangnya untuk menuntunnya ke arah sang raksasa. Dan pertarungan pun dimulai, di mana Wander harus mencari titik kelemahan sang raksasa sebelum menghabisinya. Setelah itu, Wander kembali ke kuil, sebelum akhirnya pergi untuk membunuh lagi.

Ritual tersebut harus dijalani oleh Wander selama 16 kali. Lambat laun, seluruh pertarungan yang terjadi pun terasa bagaikan sebuah mitos. Setiap kali Wander berhasil menghabisi sang raksasa, akan ada sebuah harapan baru, di mana sang gadis pujaan akan segera bangkit dari kematiannya. Semuanya terasa begitu kejam, bagaimana seseorang dapat menginvasi dan menghabisi nyawa demi mendapatkan keinginannya. Namun, bukankah hal tersebut yang dilakukan oleh semua orang? Melakukan segalanya demi satu-satunya orang yang dicintainya?

Versi remake dari game ini membuat Laikers lebih memiliki kontrol dibanding pendahulunya. Meski hal tersebut tidak cukup membantu dalam menjalani petualangan yang dilakukan oleh Wander menjelajahi dunia bersama kuda terpercayanya. Meski demikian, Laikers rasanya masih tetap akan merasa sedikit susah untuk mengontrol Wander, baik saat sedang menjelajah, maupun saat sedang bertarung. Hasilnya, terkadang ada ayunan pedang yang tidak mengenai sasaran atau seorang Wander yang tersandung kakinya sendiri saat sedang berlari.

Berbeda daripada itu, Bluepoint nampaknya fokus dalam hal memberikan gambaran grafis yang sempurna pada selurh raksasa yang harus dihadapi oleh Wander. Laikers dapat melihat bulu mereka terkesiap saat Wander memanjat tubuh mereka. Selain itu, Laikers juga dapat dengan jelas melihat rasa frustasi dan takut mereka, saat mereka tidak dapat mengibaskan Wander dari tubuh mereka. Dan setelah Wander berhasil mengalahkan mereka, Laikers juga dapat melihat betapa mereka merasa sangat tidak berdaya. Di bagian inilah, Laikers mulai bertanya-tanya, seberapa patutnyakah kita mengorbankan nyawa orang lain demi keinginan kita semata.

Bagaimanapun, game Shadow of Colossus memang merupakan sebuah game yang penuh dengan filosofi. Semuanya dikemas dengan gameplay yang lumayan mudah untuk dikuasai, meski memang terkadang ada beberapa kontrol yang sempat membuat gemas. Dengan sebuah cerita puitis yang membuat seluruh pemainnya kembali mempertanyakan layakkah harga yang harus dibayar untuk memperoleh keinginan hati semata, game ini sangat layak untuk dimainkan.

Post Author: Escravania

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.