Star Wars: The Last Jedi Review

Lucasfilm mempersembahkan kisah lanjutan dari Saga Skywalker melalui film Star Wars: The Last Jedi yang dapat Laikers saksikan di bioskop mulai tanggal 13 Desember 2017. Film ini akan melanjutkan perjalanan yang berakhir pada film Star Wars: The Force Awakens melalui sebuah petualangan luar biasa.

Berbeda dengan film-film Star Wars sebelumnya, Sutradara Rian Johnson (Brick, Looper) memenuhi film kedelapan dari Saga Skywalker ini dengan berbagai elemen kejutan, dimana semuanya terasa mendebarkan, emosional, dan bahkan terasa lucu. Keseluruhannya, membuat film ini menjadi film Star Wars terbagus semenjak film The Empire Strikes Back (1980).

Cerita dalam film ini dimulai tepat setelah adegan terakhir dalam film The Force Awakens. Para Pemberontak harus berjuang mati-matian untuk melarikan diri dari kejaran First Order. Sementara itu, Rey juga berusaha keras untuk meyakinkan Luke agar mau meninggalkan tempatnya yang terpencil dan bergabung kembali bersama para Pemberontak.

Dari awal, film ini sama sekali tidak membuang-buang waktu dan memulai kisah dari adegan pertarungan yang menegangkan antara pihak Pemberontak dan First Order. Setelahnya, setiap adegan akan terasa semakin menegangkan dan menarik. Benar-benar merupakan film Star Wars yang paling intens penuh dengan aksi yang mengagumkan, plus lumayan kocak juga.

Rian Johnson berhasil memberikan waktu yang cukup bagi setiap karakter dalam film ini untuk tampil cemerlang sekaligus memiliki pendalaman karakter yang kuat. Alur cerita dalam film ini berjalan lumayan cepat, semua adegan dikisahkan dengan lugas tanpa banyak membuang-buang waktu untuk dialog yang tidak penting dan bertele-tele. Begitu film ini berakhir, dunia Star Wars seakan telah melalui perjalanan sebuah trilogi yang sempurna. Oleh karena itulah film ini terasa sangat memuaskan untuk disaksikan.

Salah satu perubahan karakter terbesar terjadi pada diri Luke Skywalker, dimana dirinya dalam film ini bukan lagi merupakan seorang pahlawan yang melegenda, melainkan seorang master Jedi yang dipenuhi oleh konflik. Mark Hamill sungguh mendalami perannya dengan sangat sempurna. Dari sorotan matanya, Laikers dapat menyaksikan rasa sakit yang dideritanya dan keenganannya untuk menghadapi masa lalu.

Dalam hal ini, Daisy Ridley juga tak kalah apiknya seperti Mark Hamill. Mereka berdua banyak menggambarkan rasa frustasi dan empati satu sama lain. Hasilnya, suatu adegan yang jauh lebih menarik untuk dinikmati daripada sekedar hubungan guru dan murid biasa. Untuk Rey, misteri terbesar mengenai jati diri orang tuanya masih tetap menjadi sebuah misteri dalam The Last Jedi. Misteri tersebut jugalah yang menjadi titik lemah Rey dan membuatnya menjelajahi pemahaman akan Jedi sesungguhnya dan menghubungkannya dengan Kylo Ren (Adam Driver).

Karakter Rey memang berbeda dengan karakter Kylo Ren yang dihantui rasa bersalah masa lalu dan berusaha keras untuk menyenangkan Supreme Leader Snoke (Andy Serkis). Meski demikian, Rey dan Kylo Ren sama-sama berusaha keras berdamai dengan masa lalu mereka dan menciptakan takdir baru kehidupan mereka sendiri. Dan hal tersebut menjadi bagian yang paling tidak dapat terlupakan sekaligus paling bertolak belakang dari film ini.

Di bagian lain, meski para Pemberontak sedang terdesak, tidak ada satupun dari anggotanya yang tahu bagaimana caranya untuk menghadapi First Order. Tentu saja, Poe Dameron (Oscar Isaac) masih menjadi pilot terhebat di film ini, tapi tingkahnya yang ceroboh membuatnya bermasalah dengan General Leia Organa (Carrie Fisher) dan Vice Admiral Holdo (Laura Dern). Sementara, Finn (John Boyega) dan Rose (Kelly Marie Tan), seorang pengurus teknikal Pemberontak, memiliki rencana tersendiri untuk menyelamatkan kapal induk Pemberontak. Hal tersebut membawa mereka berdua ke Canto Bight, sebuah kota judi layaknya Las Vegas. Di tempat tersebut, Finn dan Rose bertemu dengan seorang hacker serba bisa yang diperankan oleh Benicio del Toro.

Masing-masing cerita dari kedua cerita yang terdapat dalam The Last Jedi memiliki kelebihan tersendiri. Meski saat berusaha menyambungkan keduanya, ada sedikit momentum yang terlepas di tengah cerita. Memang, materi mengenai Canto Bight terasa sangat cocok untuk Finn dan Rose. Dan Kelly Marie Tran sanggup memberikan penampilan karakter yang lumayan menarik sebagai Rose.  Namun subplot berkaitan dengan Canto Bight ini terasa sedikit kering dan sedikit dipaksakan. Selain itu, perselisihan antara Poe dan Holdo juga terasa sedikit membosankan. Bukan berarti hal tersebut membuat film ini menjadi jelek. Bagaimanapun kedua hal tersebut merupakan salah satu elemen yang dapat melengkapi keseluruhan premis dalam The Last Jedi.

Seperti yang telah Laikers ketahui, almarhum Carrie Fisher meninggal dunia di bulan Desember tahun lalu setelah menyelesaikan masa produksi The Last Jedi. Untungnya, almarhum Carrie Fisher berhasil meninggalkan adegan-adegan terbaiknya bersama para Pemberontak dalam The Last Jedi untuk Laikers saksikan. Berperan sebagai seorang pemimpin yang bijaksana dan harus bertanggung jawab akan nasib keseluruhan galaksi, almarhum Carrie Fisher masih dapat dengan tenangnya menghadapi Poe yang tingkah lakunya agak mirip dengan dirinya di masa muda. Hasilnya, Laikers akan menyaksikan seorang pemimpin yang sangat dihormati namun masih dapat berkelakar di beberapa tempat. Beberapa dialog yang diucapkannya seakan memiliki makna ganda yang keseluruhannya akan terungkap dengan sendirinya.

Satu hal yang perlu diacungi jempol dari The Last Jedi adalah keberhasilan Rian Johnson dalam menciptakan sebuah film Star Wars yang mencakup hampir keseluruhan elemen terbaik dalam franchise-nya, sekaligus memasukkan nuansa dan gayanya sendiri. Rian membawa pembaharuan dalam franchise ini, mulai dari kelakar-kelakar yang kocak hingga caranya dalam melakukan proses penyutradaraan. Dalam hal ini, Rian memperlihatkan kepada Laikers cara Rey menghadapi Forces-nya dengan cara yang jauh berbeda dibandingkan film-film Star Wars sebelumnya.

Akhir kata, film Star Wars: The Last Jedi bisa dikatakan merupakan sebuah film Star Wars klasik. Dalam film ini, Laikers  akan menyaksikan berbagai macam hal yang menjadikan Star Wars sebagai sebuah franchise yang digila-gilai oleh banyak khalayak. Semua hal tersebut dipadukan dengan hal-hal baru yang tak terduga serta dipastikan dapat membawa elemen kejutan yang menarik. Film Star Wars: The Last Jedi merupakan sebuah film yang dramatis, menarik, emosional, serta jauh lebih lucu jika dibandingkan dengan film Star Wars lainnya. Mungkin film ini masih belum dapat menjawab seluruh pertanyaan atau misteri yang hadir dari franchise ini, namun paling tidak film ini telah menjawab beberapa di antaranya.

Post Author: Escravania

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.