The Equalizer 2 Review

Denzel Washington pada tahun 2014 telah berperan apik dalam film The Equalizer sebagai seorang pria dengan masa lalu yang misterius tetapi memiliki kemampuan tinggi untuk bertarung dan menghabisi lawan-lawannya. Ia meninggalkan kehidupan tenangnya ketika seorang gadis muda bernama Teri (Chloe Grace Moretz) dianiaya oleh kelompok gangster Rusia. Setelah itu nampaknya dia kembali menghilang, tapi tahun 2018 ini, Robert McCall kembali beraksi.

Sebelumnya, perlu saya sampaikan bahwa film ini memiliki rekor khusus sebagai kali pertama Denzel Washington bermain dalam sebuah sekuel. Kali ini, Mac bekerja sebagai seorang pengemudi Lyft, sebuah layanan taksi daring. Tentu saja, Mac masih terus beraksi dengan membantu orang-orang yang mendapat perlakuan tak adil dan membalas mereka yang menganiaya orang lain.

Mac hanya memiliki beberapa orang teman, dan sahabat lamanya, Susan Plummer kembali muncul di sini. Sayangnya, ketika sedang menyelidiki sebuah kasus, Plummer dianiaya dan dirampok oleh beberapa penjahat sehingga akhirnya tewas terbunuh. Kelanjutannya bisa ditebak, Mac memutuskan untuk menyelidiki kasus tersebut dan membalaskan kematian sahabatnya. Siapa sangka bahwa misinya akan membawanya bertemu dengan rekan-rekan lamanya.

Film ini kembali diarahkan oleh sutradara kenamaan Antoine Fuqua. Fuqua sudah beberapa kali bekerjasama dengan Washington dan jelas bahwa mereka memiliki kecocokan. Berbeda dengan prekuelnya, di sini mereka tidak perlu mengisahkan kilas balik dari McCall, tetapi langsung memperlihatkan apa saja yang dia lakukan untuk membantu orang lain. Contohnya, di awal film diperlihatkan bagaimana ia menaklukkan beberapa penjahat yang ada di sebuah kereta. Adegan ini sangat mirip dengan ketika ia menghabisi gangster Rusia ketika mereka menolak permintaannya untuk melepaskan Teri di prekuelnya.

Pergerakan cerita dalam film Fuqua terkadang terasa lambat, tetapi pada saat yang tepat, adegan perkelahian dan pertempuran bersenjata akan terjadi begitu tiba-tiba seperti sebuah badai yang datang dan pergi begitu saja. Sebagai catatan, klimaks pertempuran Mac dan musuh-musuhnya juga akan mengambil tempat di tengah badai di sebuah rumah pantai. Benar-benar sebuah akhir yang pantas untuk film dengan adegan laga yang seru seperti ini.

Suka beli film tapi suka lupa nontonnya.  Senang beli buku, tapi suka lupa bacanya.  Sering beli game Steam tapi suka lupa maininnya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.