The Mummy Review

Genre film monster rasanya sudah cukup lama tidak mendapat film yang bagus. Universal Pictures yang memiliki beberapa hak untuk waralaba film-film layar lebar seperti Bride of Frankenstein, The Invisible Man, The Wolfman, dan Dracula akhirnya memiliki ide baru yang tentunya terinspirasi oleh kesuksesan Marvel dan DC membentuk sebuah dunia di mana berbagai karakter ada di dalamnya dan berinteraksi pada beberapa kesempatan.

 

The Mummy ini adalah landasan pertama dari dunia tersebut. Ditulis oleh Jon Spaihts (Doctor Strange) dan Christopher McQuarrie (Edge of Tomorrow), The Mummy adalah reboot waralaba The Mummy setelah reboot sebelumnya yang dibintangi oleh Brendan Fraser di tahun 1999. Disutradarai oleh Alex Kurtzman, tidak dapat disangkal lagi bahwa Universal menginginkan Kurtzman bisa menggunakan pengalamannya saat terlibat dengan film Star Trek (2009).

Pada film ini, dikisahkan bahwa di jaman dahulu, hidup seorang wanita bernama Ahmanet (Sofia Boutella) yang harusnya menjadi pewaris tahta kerajaan Mesir. Ketika ia akan kehilangan haknya sebagai pewaris, Ahmanet kemudian beralih kepada kuasa gelap dan membuat perjanjian dengan Set, Dewa Kejahatan. Sayangnya, rencana Ahmanet gagal dan dia harus menerima hukuman dimumikan hidup-hidup dan dikuburkan jauh dari Mesir kampung halamannya.

Kisah bergulir ke jaman modern dan kita dibawa mengikuti Nick Morton (Tom Cruise) yang secara tidak sengaja menemukan makam kuno Ahmanet. Dalam perjalanannya membawa sarkofagus Ahmanet, serangkaian kejadian mengerikan terjadi di perjalanan dan membuat Nick dan rekan-rekannya meninggal. Nick kemudian hidup kembali dan dipertemukan dengan Dr. Jekyll (Russel Crowe), pemimpin Prodigium. Prodigium sendiri adalah sebuah organisasi yang khusus menyelidiki tentang para monster dan kekuatan mistis lainnya. Mereka berusaha menjadi penyelamat dunia dari teror dan kejahatan kelam lainnya. Dari Jekkyl, Nick mendapatkan informasi bahwa dirinya bisa hidup kembali karena mendapatkan kutukan dari Ahmanet. Jadi, Nick mulai mencari cara untuk mematahkan kutukan tersebut dan menghalangi rencana jahat Ahmanet.

Dari segi efek spesial dan suara, film ini jelas digarap dengan baik. Sayangnya, jalan ceritanya masih terasa agak lemah. Terlalu banyak aksi tanpa cukup banyak hal yang diungkapkan dengan rapi sesuai dengan alur ceritanya. Akting  Tom Cruise cukup prima, mengingat di usianya, dia masih mampu melakukan berbagai adegan aksi yang menguras tenaga. Russel Crowe sendiri tampaknya masih menyimpan kekuatan ekpresi dan aktingnya untuk film selanjutnya dari dunia monster ini. Nah, yang ingin saya tekankan di sini adalah keunikan dari Sofia Boutella. Ia berhasil menghidupkan karakter seorang putri kerajaan yang anggun, sekaligus sebagai tokoh yang dengan penuh kesadaran menerima kekuatan dari kegelapan dan menggunakannya untuk mengacaukan dunia yang dibencinya dan siapapun yang mencoba menghalanginya.

Meskipun memiliki kekurangan di sana-sini dan kurang berhasil menghadirkan hiburan seperti yang telah diharapkan banyak orang sejak menonton trailernya, nampaknya kita masih bisa menyampaikan kepuasan kita akan satu hal. Sebagai film perdana dari Dark Universe, The Mummy cukup menjanjikan sebagai sebuah pembuka dari dunia baru yang penuh kekelaman dan kuasa jahat.

Post Author: Gegemania

Suka beli film tapi suka lupa nontonnya.  Senang beli buku, tapi suka lupa bacanya.  Sering beli game Steam tapi suka lupa maininnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.