Thor: Ragnarok Review

Selama bertahun-tahun Marvel telah memiliki reputasi sebagai studio yang paling tidak ramah dengan sutradaranya dalam industri perfilman Hollywood. Edgar Wright (Baby Driver) meninggalkan proyek Ant-Man karena perbedaan visi. Joss Whedon (The Avengers) meninggalkan proyek Avengers setelah kesulitan melakukan kompromi pada Avengers: Age of Ultron. Patty Jenkins (Wonder Woman) pun meninggalkan proyek Thor: The Dark World karena alasan serupa.

Bagaimanapun, nampaknya Marvel  Studios telah mulai berubah. Beberapa film Marvel yang paling berhasil merupakan film-film yang digarap lengkap dengan esensi eksentrik sutradaranya. The Guardians of the Galaxy bisa dibilang lebih merupakan film James Gunn daripada film Marvel. Demikian pula dengan Scott Derrickson yang berhasil menggambarkan visualisasi fantasmagoria yang mewah dalam Doctor Strange. Tapi, tampaknya kedua film tersebut tidak akan dapat dibandingkan dengan Thor: Ragnarok garapan Taika Waititi.

Memang, Thor: Ragnarok merupakan fitur Hollywood pertama yang digarap oleh sutradara asal New Zealand tersebut. Namun apa yang Taika Waititi lakukan terhadap film ini jauh lebih dalam daripada sekedar menambah karakter baru atau unsur komedi ke dalamnya. Melainkan sebuah kesadaran akan perubahan baru yang penuh warna dan ide spektakuler berkaitan dengan keseluruhan film Marvel. Dimana Thor: Ragnarok berhasil menjadi sebuah film superhero yang paling menyenangkan untuk disaksikan setelah bertahun-tahun.

Dalam Avengers: Age of Ultron, Thor (Chris Hemsworth) meninggalkan The Avengers untuk menyelidiki kiamat yang terjadi dalam mimpinya. Ternyata mimpinya tersebut sedang menggambarkan terjadinya Ragnarok, yang diramalkan akan mengakhiri Asgard. Mimpi Thor dengan cepat menjadi kenyataan saat Odin (Anthony Hopkins) tewas. Di hadapan Thor dan Loki (Tom Hiddleston) mendadak muncul Hela (Cate Blanchett), putri pertama Odin, sang Dewi Kematian sekaligus pewaris sah tahta Asgard.

Karena khawatir dan takut akan ambisi Hela yang tidak memiliki batas, selama ini Odin telah mengurung Hela, hingga keberadaannya bahkan tidak diketahui oleh kedua anak lelakinya. Tewasnya Odin, secara otomatis membebaskan Hela. Thor dan Loki berusaha keras menghalangi Hela, namun keduanya ternyata sama sekali bukan tandingan seorang Dewi Kematian. Bukan itu saja, Thor malah mendapati dirinya terperangkap di Planet Sakaar dan harus memenangkan pertandingan gladiator jika hendak meninggalkan planet tersebut. Dan lawan pertama yang harus dihadapi oleh Thor adalah Hulk.

Meski dari premisnya terasa bagaikan sebuah film standar Marvel yang berkutat dengan kiamatnya dunia, namun adegan pertama dari Thor: Ragnarok seakan memberikan perbedaan yang sangat jelas antara film ini dengan film Marvel yang lain. Laikers akan langsung disuguhi oleh karakter kocak Thor yang dibawakan dengan apik oleh Chris Hemsworth. Dalam film ini, Chris Hemsworth terlihat benar-benar menjiwai karakter Thor yang selalu mencoba melakukan hal yang baik dan benar, meski tidak dengan cara yang pintar. Memang selalu ada humor dalam semua film Marvel, tapi Thor: Ragnarok membawa humor dan pengembangan versi karakter dalam sebuah level yang jauh berbeda.

Perubahan-perubahan tersebut memang tidak terlalu signifikan, namun terasa sangat ampuh dalam memberikan suasana yang berbeda dan membuat keseluruhan film ini terasa menyenangkan. Dimulai dari desain Planet Sakaar yang retro futuristik, aransemen musik dari Mark Mothersbaugh, karakter Grandmaster (Jeff Goldblum) yang terasa sangat aneh,  hingga Immigrant Song-nya Led Zeppelin yang berkumandang setiap kali sang jagoan bertarung dengan lawannya. Semua berhasil dikemas secara indah dengan komposisi yang pas oleh Taika Waititi.

Tentu saja, Thor: Ragnarok tidak akan bisa dikatakan sebagai sebuah film Marvel tanpa kehadiran tiga unsur terpentingnya, pertempuran spektakuler, permasalahan kiamatnya dunia, dan makhluk-makhluk CGI raksasanya. Tapi kekuatan karakter yang berhasil dibawakan dengan apik oleh para pemeran utamanya juga menjadi faktor penentu dalam film ini. Salah satunya adalah Cate Blanchett yang berperan sebagai Hela. Artis peraih Oscar ini berhasil membawakan peran Hela dengan sangat menawan. Dimana meski digambarkan sebagai villain paling kuat di film ini namun tetap terlihat sangat elegan baik dalam bertingkah laku maupun dalam bertarung.

Secara garis besar, Thor: Ragnarok merupakan film yang wajib Laikers tonton. Film superhero yang satu ini terasa sangat berbeda dibandingkan dengan film-film superhero lainnya. Dan yang pasti, terasa sangat menghibur dan menyenangkan. Thor: Ragnarok akan hadir di bioskop-bioskop Indonesia pada tanggal 25 Oktober 2017, jangan sampai kelewatan!

Post Author: Escravania

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.