// Replace with first Tag Manager code
LOADING

Type to search

Movie Review

Ant-Man Review

Share

Dalam lima tahun terakhir ini, rasanya kita telah disuguhi begitu banyak film yang diangkat dari komik. Beberapa film ini terlalu serius dalam bercerita dan begitu jor-joran mengekspos diri mereka sebagai film superhero dengan jalan cerita yang terkadang agak membingungkan untuk orang yang awam dengan cerita komik dan superhero. Tidak demikian halnya dengan Ant-Man.

Tidak banyak orang yang tahu bahwa Ant-Man, film keduabelas dari deretan lini Marvel Cinematic Universe (MCU) ini sebenarnya direncanakan sebagai salah satu film pertama lini tersebut. Hal ini bisa jadi merupakan blessings in disguise, karena hasilnya, Ant-Man terasa lebih segar dan menyenangkan dibanding film superhero lain seperti Avengers: Age of Ultron, misalnya.

Film ini mengisahkan Dr. Hank Pym yang bekerjasama dengan Scott Lang dan Hope van Dyne, mencoba menggagalkan usaha seorang murid Hank Pym yang bernama Darren Cross. Cross ingin membuat senjata baru berdasarkan formula Pym Particles buatan Hank. Cross ingin menjual ciptaannya, Yellow Jacket, menjadi pasukan liliput yang nantinya dapat menghancurkan siapapun yang menghalangi mereka.

Secara keseluruhan, semua pemeran dalam film ini berakting sangat baik. Seperti biasa, tim casting Marvel tidak salah memilih orang. Meskipun demikian, veteran Michael Douglas jelas sangat mendominasi dalam setiap adegan yang melibatkannya. Dia tidak memperlihatkan akting yang sangat intens, tapi efektif. Setiap kali ia muncul, perhatian penonton akan tertuju padanya bahkan terkadang mengabaikan Paul Rudd yang menjadi bintang utama film ini. Ketiga teman Scott Lang yang diperankan oleh Michael Pena, TI dan David Dasmalchian juga selalu berhasil menghidupkan suasana, setiap kali mereka membantu Lang menjalankan misinya.

Sutradara Peyton Reed berhasil menghidupkan kemampuan Ant-Man untuk memperkecil diri sendiri dan berkomunikasi dengan serangga dengan sangat baik. Berbagai adegan yang memperlihatkan saat-saat Lang beraksi dalam ukuran mikro memancing rasa ingin tahu dan memperlihatkan sudut pandang yang menarik. Hal ini mengingatkan kita pada film Honey, I Shrunk The Kids, yang membawa kita pada petualangan mendebarkan, di mana dunia yang selama ini telah kita kenal begitu baik, bisa menjadi begitu mengasyikkan dan terkadang menakutkan, saat dilihat dari ukuran mikroskopis.

Hal-hal inilah yang membuat Ant-Man menjadi film superhero yang terasa berbeda dari film Marvel yang lain. Meskipun demikian, kita akan tetap diingatkan bahwa Ant-Man adalah bagian dari MCU, karena adanya kemunculan dari superhero lain di sini. Para penonton yang awam dan kurang mengikuti film-film yang diangkat dari komik-komik Marvel akan dapat dengan mudah menikmati film ini, tetapi penggemar MCU juga dapat menikmati perluasan dunia MCU sebagaimana yang mulai dijajaki oleh Scott Lang.

Tips untuk kalian: tetaplah di dalam ruang teater setelah film selesai, karena ada 2 adegan setelah credit scene yang akan menjadi jembatan antara Ant-Man dan film MCU lainnya.

Related Posts
Kabar Terbaru Petualangan Ant-Man dan The Wasp

Marvel telah berencana untuk merilis 3 buah film pada tahun 2018. Diawali dengan petualangan Black Selengkapnya

Review Film Overlord

Tidak seperti biasanya, sebuah film dirilis dengan begitu sedikit promo atau cerita tentang latar belakang Selengkapnya

Review Film Mara

Berdasarkan cerita-cerita dari orang tua, ketindihan adalah kondisi di mana sebuah kekuatan atau makhluk gaib Selengkapnya

Review Film Bohemian Rhapsody

Bohemian Rhapsody adalah sebuah biopic tentang Freddie Mercury, vokalis dari band legendaris Queen. Proses pembuatan Selengkapnya

Tags:
Gegemania

Suka beli film tapi suka lupa nontonnya.  Senang beli buku, tapi suka lupa bacanya.  Sering beli game tapi suka lupa maininnya.

  • 1