// Replace with first Tag Manager code
LOADING

Type to search

Movie Review

Avengers: Age of Ultron review

Share

Film ini bisa jadi adalah blockbuster paling ditunggu tahun ini, bagaimanakah hasilnya? Avengers: Age of Ultron (AoU) dimulai dengan penyerbuan ke markas Hydra. Thor yang dibantu rekan-rekannya bertekad mendapatkan kembali scepter milik Loki dan mengamankannya sebelum disalahgunakan oleh para penjahat. Setelah berhasil mendapatkannya, Stark dan Banner mendapatkan ide untuk menggunakan kecerdasan buatan yang mereka temukan untuk menyempurnakan sistem pertahanan global yang dikembangkan oleh Stark. Sayangnya, sistem tersebut berkembang di luar dugaan dan menjelma menjadi Ultron yang menganggap manusia adalah makhluk yang perlu dilenyapkan agar tercipta perdamaian di bumi. Tentunya menjadi tugas Avengers untuk menjaga keselamatan umat manusia dan mengalahkan Ultron.

Seperti yang sudah saya duga sebelumnya, masalah utama dari film ini adalah beban dari keseluruhan Marvel Cinematic Universe (MCU). Sebagai film yang menjadi kendaraan penarik keseluruhan cerita dari MCU, Avengers: AoU, diharuskan menjadi jalan pembuka bagi film-film MCU berikutnya seperti Captain America:Civil War, Thor: Ragnarok, Black Panther dan Infinity War. Joss Whedon sebagai penulis sekaligus sutradara film ini terlalu menyadari beban tersebut sekaligus merasa bertanggung jawab untuk menjaga karakteristik para tokoh film ini. Ingat, dia adalah salah satu pecinta komik sejati sekaligus penulis berbagai komik dengan jalan cerita paling menarik di industri komik Amerika. Meskipun demikian, dengan begitu banyaknya cameo dan beban cerita di film ini, ada saat-saat dialognya tiba-tiba kedodoran, meskipun adegan berikutnya kembali tergarap dengan baik.

Di sisi lain, Whedon berhasil menghidupkan chemistry para tokohnya dan menampilkan bahwa kali ini, Avengers berhasil bertempur sebagai sebuah tim. Kerjasama antara Thor dan Captain America? EPIC! Arogansi Stark? Pasti ada! Konservatifnya Captain Amerika sebagai “orang lama” juga ditampilkan dengan baik lewat sebuah anekdot yang terus muncul di sepanjang film. Bahkan latar belakang Barton kali ini mendapat kesempatan untuk diceritakan lebih dalam. Peran dan dialognya terasa lebih baik dibanding Avengers pertama. Herannya, ada sisi romansa yang terasa dipaksakan antara Banner dan Romannof. Apakah hal ini dimaksudkan sebagai perlambangan kisah cinta Beauty and The Beast yang juga merupakan properti lain milik Disney?

avengersrev02

Adegan pembuka film ini digarap dengan sangat bagus dan sayangnya, tidak ada adegan laga lain yang berhasil digarap sebaik adegan pembuka tersebut sepanjang film ini. Tema pertempuran terakhir juga masih terasa tidak jauh berbeda dari film MCU lainnya seperti Avengers dan Winter Soldier. Pemilihan Ultron sebagai antagonis utama dalam film ini terasa kurang memuaskan. Ultron memiliki kecenderungan untuk terus melontarkan lelucon sarkastik ala Tony Stark dan membuatnya tidak pernah terasa benar-benar seperti sebuah ancaman besar. Hal ini berbeda dengan peran Loki pada film Avengers yang pertama, di mana ia terlihat memiliki ambisi dan motivasi yang benar-benar kuat untuk mencapai tujuannya, tetapi tetap bersenang-senang saat melakukan aksinya.

Avengers: Age of Ultron sama sekali bukan sebuah film yang buruk. Sebagai salah satu buktinya, film ini merupakan film dengan pemasukan terbesar di tahun 2015 ini. Kekurangan yang diciptakannya adalah hype dan harapan para penonton yang terlalu besar, yang tidak berhasil dijawabnya dengan tuntas. Nikmatilah film ini tanpa ekspektasi yang berlebihan dan kalian akan mendapatkan sebuah blockbuster yang sangat menghibur tahun ini.

Tags:
Gegemania

Suka beli film tapi suka lupa nontonnya.  Senang beli buku, tapi suka lupa bacanya.  Sering beli game tapi suka lupa maininnya.

  • 1