// Replace with first Tag Manager code
LOADING

Type to search

Review

Ghost in the Shell Review

Share

Pada tahun 1995, sutradara asal Jepang, Mamoru Oshii, merilis anime yang diadaptasi dari manga karya Masamune Shirow, Ghost in the Shell. Dalam Ghost in the Shell, jiwa di dalam tubuh manusia mulai dipertanyakan. Akankah kecanggihan teknologi akan mengubah jiwa sesosok manusia atau dapatkah jiwa tersebut berpindah ke dalam tubuh yang lain dengan bantuan teknologi. Jalinan cerita yang pelik dan karakter yang tidak umum pada saat itu membuat kesuksesan Ghost in the Shell sangat fenomenal. Mungkin karena itu, tidaklah heran jika Hollywood butuh waktu 20 tahun untuk dapat mengadaptasinya ke layar lebar.

Ghost in the Shell  bertempat di sebuah kota berteknologi tinggi dengan nuansa Asia yang sangat kental. Di kota tersebut, Major (Scarlett Johansson), Batou (Pilou Asbaek), dan tim keamanan dari Sector 9 bertugas untuk mengeliminasi setiap bahaya yang mengancam masyarakat. Di bawah komando Aramaki (Takeshi Kitano), Sector 9 berusaha menjaga keamanan kota dengan seefisien mungkin.

Sebelum bergabung dengan Sector 9, Major yang terluka parah karena serangan teroris berhasil bertahan hidup setelah Dokter Ouelet (Juliette Binoche) memindahkan otak dan jiwanya ke dalam sebuah tubuh semi robot berteknologi tinggi. Hal tersebut membuat Major lebih superior jika dibandingkan dengan rekan-rekannya di Sector 9. Mungkin karena itulah major selalu bertindak impulsif untuk melindungi rekan-rekannya, terutama Batou.

Suatu masalah yang tidak terelakkan terjadi saat Major dan timnya mengejar Kuze (Michael Pitt), otak teroris yang berdarah dingin. Major mulai mengalami penampakan-penampakan aneh yang tidak sesuai dengan ingatannya. Major dihantui oleh memori yang hadir dalam otak dan perasaannya. Semakin major mengejar Kuze, semakin sering gangguan tersebut terjadi. Hal tersebut membuat Major berusaha dengan keras untuk menangkap Kuze dan mengungkap tabir misteri mengenai jati dirinya yang asli.

Sutradara Rupert Sanders benar-benar berhasil membuktikan dirinya dalam film ini. Gost in the Shell terlihat jauh berbeda dari hasil karya terdahulunya, Snow White and the Hunstsman (2012). Jalinan dan ritme cerita dibuat secara linear dan tidak bertele-tele. Mengingat  cerita Ghost in the Shell yang cukup dalam dan rumit, hal tersebut sungguh menjadi sebuah nilai plus. Paling tidak khalayak yang tidak familiar dengan Ghost in the Shell sanggup mengikuti jalan ceritanya. Bicara mengenai akting, Pilou Asbaek terlihat berakting dengan prima dan sanggup mendukung Scarlett Johansson dengan baik. Scarlett Johansson sendiri terlihat cukup masuk ke dalam karakter Major, meski terkadang masih terlihat seperti Black Widow yang sedang beraksi. Bukan tidak mungkin, jika Ghost in the Shell dapat diterima dengan baik maka ini merupakan jalan Scarlett Johansson masuk ke dalam franchise-nya dan terus berakting sebagai Major. Secara umum, film ini wajib ditonton. Dan setelah menonton, Laikers mungkin akan pulang ke rumah dan menonton kembali seluruh seri animasi Ghost in the Shell, sekedar untuk bernostalgia.

Related Posts
Review Film Bloodshot, Aksi Eks Tentara Sekuat Terminator

Bloodshot adalah sebuah film aksi yang merupakan hasil adaptasi dari komik superhero terbitan Valiant Comics Selengkapnya

Review Film Onward, Mencari Sosok Ayah yang Telah Tiada

Dahulu kala, dunia masih dipenuhi oleh keajaiban. Demikianlah film terbaru dari Pixar ini dimulai. Kita Selengkapnya

Review Invisible Man, Teror Seorang Suami Tak Kasat Mata

Film invisible Man ini sebenarnya adalah sebuah adaptasi kesekian kalinya atas buku novel berjudul sama Selengkapnya

Review Brahms: The Boy II, Twist yang Tidak Diharapkan

Di tahun 2016, sebuah film thriller berhasil mengejutkan banyak pihak karena mencuri perhatian berkat jalan Selengkapnya