// Replace with first Tag Manager code

Type to search

Tags:

Review Brahms: The Boy II, Twist yang Tidak Diharapkan

Share

Di tahun 2016, sebuah film thriller berhasil mengejutkan banyak pihak karena mencuri perhatian berkat jalan ceritanya yang terasa unik dan menarik. Aktris Lauren Cohen yang saat itu sedang naik daun memerankan Greta Evans. Evans dibayar untuk mengasuh sebuah boneka porselen seperti layaknya seorang anak manusia dari sepasang orang tua yang hendak pergi berlibur. Berbagai kejadian aneh terus berlangsung sepanjang film saat ia mengasuh boneka tersebut dan puncaknya, sebuah twist tersaji dengan begitu menarik dan memuaskan para penonton film tersebut.

Kini, The Boy mendapatkan sebuah sekuel, masalahnya, seperti apakah kualitas filmnya? Akankah bisa mengalahkan atau minimal, menyamai kualitas pendahulunya?

Brahms: The Boy II direncanakan untuk mengambil semua elemen terbaik dari The Boy dan memutarbalikkannya untuk mendapatkan sebuah film dengan twist yang berbeda.

Film ini menampilkan aktris Katie Holmes sebagai Liza, seorang ibu rumah tangga yang suatu saat diserang oleh sekelompok penjahat di rumahnya sendiri. Akibat penyerangan tersebut, Liza mengalami depresi dan mimpi buruk berkepanjangan. Anak tunggalnya, Jude (Christopher Convery), bahkan tidak pernah berbicara lagi setelah peristiwa tersebut. Sang ayah, Sean (Owain Yeoman), akhirnya memutuskan untuk mulai bekerja dari rumah saja dan membawa keluarganya pindah ke area pinggiran kota, di sebuah rumah tamu yang merupakan bagian dari rumah besar tempat terjadinya peristiwa dalam film pertama.

Di rumah tersebut, Jude langsung menemukan boneka Brahms yang terkubur di dalam hutan dan membawanya pulang. Meskipun tidak menyukai boneka tersebut, Liza dan Sean memperbolehkan Jude membawa boneka tersebut dengan harapan akan bias membuatnya melupakan trauma perampokan yang dialaminya. Bisa ditebak, berbagai masalah segera muncul. Mulai dari boneka lama Jude yang terkoyak koyak, sampai beberapa saat yang menunjukkan bahwa boneka Brahms ternyata lebih dari sekedar menyeramkan. Liza dan suaminya kini harus bisa memecahkan misteri boneka Brahms dan perilaku aneh Jude, jika mereka masih ingin selamat dan tinggal sebagai sebuah keluarga.

Sayangnya, sekuel yang ini terasa gagal memenuhi ekspektasi para penggemar The Boy. Salah satu penyebab utamanya adalah elemen supernatural yang tiba-tiba dinaikkan menjadi sesuatu yang nyata dalam film ini, berbeda dengan pendahulunya yang terus membiarkan penonton berusaha menebak-nebak apa yang sesungguhnya menjadi penggerak Brahms. Hal tersebut kontan membunuh sebagian dari ketegangan yang seharusnya menjadi nyawa film seperti ini.

Meskipun skenarionya masih ditulis oleh Stacey Menear, jelas terlihat bahwa kali ini, upaya meletakkan twist di dalam twist merupakan suatu kesalahan. Semoga saja mereka dapat melakukan perubahan pada sekuel berikutnya.

Tags:
Gegemania

Suka beli film tapi suka lupa nontonnya.  Senang beli buku, tapi suka lupa bacanya.  Sering beli game tapi suka lupa maininnya.

  • 1