// Replace with first Tag Manager code
LOADING

Type to search

Movie Review

Review Film Curse of the Weeping Woman

Share

The Curse of the Weeping Woman berlatarbelakang kota Los Angeles tahun 70-an. Petugas social Anna Tate-Garcia (Linda Cardellini) suatu hari menangani kasus keluarga Alvarez. Patricia Alvarez (Patricia Valesquez) diduga menganiaya anaknya sehingga beberapa kali tidak masuk sekolah dan ternyata, selama ini ia telah mengurung anak-anaknya di dalam sebuah lemari. Tentu saja, Anna dan petugas hukum segera bertindak. Mereka mengambil anak-anak Alvarez untuk diasuh oleh negara. Yang tidak mereka ketahui, sebenarnya Patricia justru sedang menjaga agar anak-anaknya aman dari serangan sang Weeping Woman.

Tanpa perlindungan, mudah ditebak bahwa anak-anak Alvarez tidak bisa bertahan dari sang Weeping Woman. Ketika Anna membawa anak-anaknya ke lokasi ditemukannya anak-anak Alvarez, secara tidak disangka-sangka, justru anaknya sendiri yang kemudian bertemu dengan Weeping Woman. Tanpa menyadari bahwa anak-anaknya berada dalam bahaya, bisakah Anna menyelamatkan mereka jika pada saatnya, Weeping Woman akan mendatangi dan menyerang mereka?

Film ini adalah debut dari sutradara Michael Chayes. Sepanjang film, nuansa gelap terasa selalu membayangi, disertai dengan mood yang ditimbulkan oleh efek suaranya. Cukup efektif untuk membangun efek kengerian. Pengembangan karakternya juga boleh diacungi jempol. Chayes memfokuskan penokohan pada Anna dan kedua anaknya sehingga para penonton dengan mudah akan merasakan adanya suatu keterikatan dengan mereka dan tidak ingin mereka mengalami nasib buruk. Akting dari Linda Cardelini adalah sisi terkuat dalam film ini. Dia begitu meyakinkan dalam perannya sebagai seorang ibu yang menjadi orangtua tunggal yang siap melakukan apa saja untuk keselamatan anak-anaknya.

The Weeping Woman atau La Llorona dalam mitologi aslinya adalah sebuah kisah mistis yang terkenal di kebudayaan Amerika Latin. Seperti mitologi lainnya, cerita ini diceritakan secara turun temurun. Adalah seorang wanita yang mendapati suaminya berselingkuh dengan wanita lain. Sebagai balas dendam, satu-satunya hal yang terpikirkan olehnya adalah menyakiti hati suaminya separah mungkin, dan caranya adalah dengan menenggelamkan kedua anak mereka. Tetapi setelahnya, wanita tersebut justru menyesal telah membunuh anaknya sendiri dan setelah kematiannya, ia menjadi arwah penasaran yang mencari dan membunuh anak-anak kecil, dengan harapan bisa menukarnya dengan anaknya sendiri.

Jika dicermati, sebenarnya tidak ada cara baru dalam film ini untuk menimbulkan ketakutan dalam diri para penontonnya. Mengingat bahwa La Llorona memiliki sejarah dalam cerita rakyat Mexico yang kurang lebih sama seperti Kuntilanak dalam mitologi kita, sebenarnya masih ada beberapa potensi yang kurang tergali dari mitologinya. Mungkinkah kita akan bisa menikmati kisah seperti ini lagi di kemudian hari? Bagaimanapun, cerita ini adalah sebuah hal yang menarik dalam dunia Conjuring dan patut untuk ditonton.

Related Posts
Review Film Child’s Play

Child’s Play adalah sebuah remake dari film berjudul sama yang dirilis tahun 1988. Tentu saja Selengkapnya

Review Truth or Dare

Dalam film Truth or Dare, sutradara Jeff Wadlow mengkombinasikan permainan yang biasanya dimainkan oleh para Selengkapnya

The Conjuring 2: Lebih Menyeramkan Daripada Prekuelnya

Pada tahun 2013, para penggemar film horor dikejutkan dengan dirilisnya The Conjuring yang disutradarai dengan Selengkapnya

The Forest: Horror Hollywood dengan Setting Jepang

Awal tahun 2016 dibuka dengan tayangnya sebuah film horror yang dibintangi oleh Natalie Dormer (Sara Selengkapnya

Tags:
Gegemania

Suka beli film tapi suka lupa nontonnya.  Senang beli buku, tapi suka lupa bacanya.  Sering beli game tapi suka lupa maininnya.

  • 1
Previous Article
Next Article