// Replace with first Tag Manager code
LOADING

Type to search

Review Invisible Man, Teror Seorang Suami Tak Kasat Mata

Share

Film invisible Man ini sebenarnya adalah sebuah adaptasi kesekian kalinya atas buku novel berjudul sama karya HG Wells yang terbit di tahun 1897. Sejak itu, berbagai film telah dibuat sebagai adaptasi ceritanya. Karakter Griffin sendiri bahkan digunakan dalam berbagai kisah lain tanpa adanya kaitan langsung dengan cerita Invisible Man itu sendiri.

Dalam adaptasi terbaru ini, Cecilia Kass (Elizabeth Moss) adalah seorang istri yang seringkali dianiaya dan dikendalikan oleh seaminya Adrian Griffin (Oliver Jackson-Cohen). Cecilia kemudian merencanakan untuk melarikan diri dari rumah mereka dan kekuasaan Adrian. Singkat kata, Cee berhasil lari dengan bantuan adiknya, ia kemudian mendatangi teman lamanya James Lanier (Aldis Hodge). Cee tinggal bersama James dan Sydney, anaknya dengan harapan bisa bersembunyi dari Griffin.

Dalam persembunyian, Cecilia hidup di bawah rasa takut yang begitu besar sampai ia bahkan tidak berani keluar rumah sama sekali. Suatu hari, sebuah kabar muncul dan membuat Cee mulai merasakan harapan baru dalam hidupnya. Griffin diberitakan mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri dan meninggalkan warisan berupa rumah dan hartanya untuk Cecilia yang akan diberikan secara bertahap lewat pengaturan dari Tom, adik dari Adrian yang juga merupakan seorang pengacara.

Sayangnya, setelah kematian Griffin, Cecilia justru sering mengalami hal-hal aneh. Berbagai barangnya kerap menghilang, senantiasa merasa bingung dan semakin merasa cemas yang berlebihan. Tanpa perlu waktu lama, Cecilia mulai curiga bahwa Griffin sebenarnya masih hidup dan dialah yang kini mulai meneror dirinya dengan cara baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Bisakah Cee membuktikan dugaannya ini? Yang lebih penting lagi, bisakah ia lepas dari teror dan kendali seorang Adrian Griffin?

Film ini terasa menarik dan mencekam karena sutradara Leigh Whannell membuat film ini dengan mendekatkan penonton ke Cecilia dan kelompok pendukungnya. Bukan dengan memperlihatkan terus menerus berbagai teror yang dilakukan oleh si manusia tak kasat mata. Ini menimbulkan rasa simpati yang lebih besar dari penonton untuk Cecilia. Pendekatan ini rasanya lebih berhasil dibandingkan dengan teror dan berbagai ketakutan lain yang dipaksakan kepada para penonton.

Barulah, di bagian akhir Whannell meningkatkan intensitas serangan-serangan dari Griffin terhadap kubu Cecilia. Setelah menyerang Cecilia dengan membabi-buta, akhirnya dia mulai menyerang saudara dan teman Cecilia untuk memperlihatkan ketidakmampuan Cecilia bertahan menghadapinya. Dengan demikian, Cecilia diharapkan akan mau tunduk dan kembali hidup bersama dengan Griffin. Di saat inilah Cee memperlihatkan bakatnya sebagai seorang penyintas. Dengan berbagai cara, dia akhirnya berhasil mengatasi rasa takutnya dan bertekad bulat menghadapi Griffin untuk terakhir kalinya.

Minggu ini, film Invisible Man sudah diputar di bioskop dan langsung meraih pendapatan yang sangat besar, apalagi jika dibandingkan dengan biaya pembuatannya yang hanya menghabiskan 7 juta dollar. Kalua kamu penasaran seperti apa bagusnya film ini, buktikan sendiri di bioskop favoritmu!

Tags:
Gegemania

Suka beli film tapi suka lupa nontonnya.  Senang beli buku, tapi suka lupa bacanya.  Sering beli game tapi suka lupa maininnya.

  • 1