// Replace with first Tag Manager code
LOADING

Type to search

Review Little Women, Hangatnya Sebuah Hubungan Keluarga

Share

Little Women adalah sebuah kisah pendewasaan diri dari para perempuan keluarga March yang hidup di abad 19. Film ini diangkat dari sebuah novel berjudul sama karya Louisa May Alcott. Inti dari cerita ini sangat menarik, tentang perbedaan pandangan para perempuan keluarga Marches dan juga orang-orang terdekat mereka terhadap kehidupan serta berbagai keputusan yang mereka ambil saat menjalani kehidupan.

Kita diperkenalkan pada Jo (Saoirse Ronan), yang paling aktif dan suka memberontak. Jo inilah tokoh utama yang menjadi penutur kehidupan para tokoh dalam film ini. Konon, Jo adalah cerminan dari Louisa May Alcott itu sendiri. Yang kedua adalah Meg (Emma Watson) yang bijaksana dan pandai dalam seni peran. Lalu ada Amy (Florence Pugh) sebagai yang paling menyukai seni dan lukisan dan kemudian ada Beth (Eliza Scanlen) yang jago bermain piano tapi sakit-sakitan.

Jo adalah seorang perempuan mandiri yang sering menulis cerita untuk mendapatkan uang. Ia kemudian menetapkan sikap untuk tidak menjual hak cipta atas karyanya kepada pihak penerbit buku. Meg adalah karakter yang menolak untuk menjalani hidup dengan menikahi pria kaya untuk menyelamatkan keluarga dari jurang kemiskinan. Amy adalah seorang pecinta seni yang jago melukis. Ia sudah lama memendam perasaan cinta pada pemuda Laurie yang sayangnya, lebih tertarik pada Jo. Beth sebagai si bungsu adalah perempuan kalem yang rendah hati dan paling suci hatinya. Di kemudian hari, sakit yang dideritanya membawa pulang Jo dari New York untuk kembali dan merawatnya.

Semua orang dalam film ini berakting sangat baik. Tentu saja Saoirse Ronan berakting sempurna, tetapi para pemeran lainnya juga berhasil menghidupkan karakter mereka dengan begitu natural. Sutradara Greta Gerwig berhasil menciptakan sebuah film yang dengan kehangatannya mampu membuat penonton seperti tersedot masuk dalam film tersebut dan merasakan sendiri berbagai hal dan peristiwa yang dialami oleh keluarga March.

Contohnya, ketika ibu mereka (Marmee) meminta mereka untuk memberikan hidangan natal mereka kepada sebuah keluarga miskin yang tinggal dekat rumah mereka. Kita bisa merasakan langsung kekecewaan para perempuan March yang gagal merayakan natal dengan hidangan tersebut. Hal ini kemudian berubah menjadi rasa tulus ketika mereka memberikan hidangan tersebut dan kemudian berubah lagi menjadi sebuah kebahagiaan ketika mereka mendapatkan hidangan natal pengganti dari Mr. Laurence.

 

Novel karya Alcott ini terhitung sudah tujuh kali diadaptasi jadi dalam bentuk film. Meskipun demikian, versi arahan Greta Gerwig ini sangatlah menarik untuk ditonton. Ini dikarenakan arahannya yang membuat Little Women menjadi sebuah kisah yang terasa sangat hangat dan jujur. Mulai ditayangkan di Indonesia pada tanggal 7 Februari, pastikan kalian menonton film ini di bioskop ya!

Tags:
Gegemania

Suka beli film tapi suka lupa nontonnya.  Senang beli buku, tapi suka lupa bacanya.  Sering beli game tapi suka lupa maininnya.

  • 1