// Replace with first Tag Manager code
LOADING

Type to search

Movie Review

Wish Upon Review

Share

Semua orang pasti memiliki keinginan dan berusaha keras untuk mencapai keinginannya. Namun, jika ada jalan yang mudah agar keinginan tercapai, kenapa tidak dilakukan? Tema cerita seperti itu telah digunakan beberapa kali oleh pembuat film di berbagai penjuru dunia. Beberapa judul yang cukup dikenal adalah Wishmaster (1997), Wish Upon a Star (1998), Wishing Stairs (2003), dan Wishcraft (2002). Satu hal yang pasti, tercapainya keinginan biasanya harus dibayar dengan sesuatu yang tidak disangka-sangka dan bukan berarti kehidupan seseorang menjadi lebih bahagia setelah keinginannya tercapai.

Mengambil tema yang sama, Wish Upon berniat untuk kembali mengingatkan laikers untuk berhati-hati saat mengucapkan suatu keinginan. Film yang berkutat dalam kehidupan seorang gadis remaja dan kotak yang berasal dari Cina ini disutradarai oleh John R. Leonetti yang dikenal cukup mumpuni dalam menggarap film horor termasuk kolaborasinya dengan James Wan. Beberapa karyanya adalah Dead Silence (2007), Insidious (2011), The Conjuring (2013), Insidious: Chapter 2 (2013), dan Annabelle (2014).

Wish Upon mengulik kehidupan Claire Shannon (Joey King), seorang gadis remaja yang tidak bahagia dengan kehidupannya. Claire selalu merasa rendah diri dengan pekerjaan yang dilakukan oleh ayahnya (Ryan Phillippe). Belum lagi permasalahan di sekolah, dimana dia selalu menjadi bulan-bulanan sekelompok anak populer. Hari-hari yang dilalui oleh Claire tampak sangat berat. Hingga suatu ketika ayah Claire memberikan sebuah kotak musik yang berasal Cina. Kotak musik tersebut mengabulkan 7 keinginan dan membuat kehidupan Claire penuh dengan kebahagian. Tapi apakah yang harus dikorbankan oleh Claire untuk mencapai ketujuh keinginannya?

Secara garis besar Wish Upon cukup menarik untuk ditonton. Sebagai pemeran utama, Joey King lumayan apik membawakan peran seorang gadis remaja yang depresi dan gagal menyadari bahwa dirinya dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya. Memang, pastinya film ini akan terasa kurang bagi penggemar horor kawakan. Beberapa adegan terasa sangat mudah ditebak dan terkadang terasa seperti film Final Destination.  Namun bagi penggemar horor baru yang tidak menyukai adegan-adegan penuh darah, film ini terasa cukup segar dan menyenangkan untuk dinikmati.

Related Posts
Review Invisible Man, Teror Seorang Suami Tak Kasat Mata

Film invisible Man ini sebenarnya adalah sebuah adaptasi kesekian kalinya atas buku novel berjudul sama Selengkapnya

Review Brahms: The Boy II, Twist yang Tidak Diharapkan

Di tahun 2016, sebuah film thriller berhasil mengejutkan banyak pihak karena mencuri perhatian berkat jalan Selengkapnya

Review Little Women, Hangatnya Sebuah Hubungan Keluarga

Little Women adalah sebuah kisah pendewasaan diri dari para perempuan keluarga March yang hidup di Selengkapnya

Review Birds of Prey, Harley Quinn dan Kawan-Kawan Barunya

Setelah diperkenalkan lewat film Suicide Squad, salah satu penjahat paling terkenal dari DC Comics, Harley Selengkapnya

Tags:
Previous Article
Next Article